Senin, 20 Juli 2015

[Review] Awaiting You by Nadya Prayudhi




Judul : Awaiting You
Penulis : Nadya Prayudhi
Penerbit : Stiletto Book
Editor : Herlina P. Dewi
Proof Reader : Weka Swasti & Tikah Kumala
Desain Cover : Theresia Rosary
Layout isi : Arya Zendi
Tahun terbit : Juni 2015
Edisi : Cetakan Pertama
Jumlah Halaman : 257 halaman
ISBN : 978-602-7572-40-9




Hilang!

Sam, suami Amora, sang Chief Editor Majalah Fashionette, mendadak hilang. Ditengah kekalutan dan kekacauan hidupnya, Amora dihadapkan berbagai macam ujian: anaknya bermasalah disekolah, didekati Lody si berondong dikantornya, mendapat simpati berlebihan dari sahabat sang suami, bertemu kembali dengan cinta lama, dan di teror oleh seorang wanita yang tidak diketahui identitasnya.
Semua itu membuat dirinya semakin frustasi hingga akhirnya Amora memutuskan cuti sementara dari pekerjaannya. Dan mulai mencari Sam.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai menemukan foto-foto baru yang diunggah ke laman Facebook Sam-yang membuat Amora semakin bertanya-tanya: Ke manakah Sam? Apa yang terjadi padanya? Jika dia masih hidup, mengapa tidak menghubungi Amora?
Akankah dia pulang? Atau, akankah dia menghilang selamanya?

****

Novel ini menceritakan seorang istri beranak dua, sebutlah Amora. Hidupnya kacau balau tidak karuan ketika mendapati suaminya, Sam menghilang.
Disela-sela pekerjaannya, banyak sekali persoalan yang menimpa Amora. Seringkali Amora dipanggil ke sekolah karena anaknya selalu membuat masalah.
Lody, yang merupakan karyawan baru di Fashionette menaruh hati pada Amora. Melalui perhatiannya, rayuannya, dan kepeduliannya, siapa yang tidak terbuai olehnya. Begitu juga dengan Amora, ia merasakan seperti ada sesuatu. Namun, Amora sadar, ia telah memiliki Sam.
Pertemuannya dengan Juan seolah menemukan cinta lama pada Amora. Cinta yang tak sampai karena suatu perbedaan.

Semakin hari pekerjaan Amora semakin kacau. Ketika ia mengetahui sahabat suaminya telah membohongi dirinya. Dengan alasan ia takut Amora menuduhnya yang telah menghilangkan Sam. Dan teror sms-sms yang Amora dapatkan, membuat semuanya semakin ruwet. Dari itu, Amora memutuskan untuk cuti dari pekerjaaannya.

Akankah Sam kembali? Iya atau tidak? Temukan jawabannya di novel Awaiting You

****

Menurutku, novel ini cukup bagus. Dilihat dari covernya saja sudah menarik dengan warnanya yang soft. Aku sangat suka. Penulis mampu menciptakan tokoh Amora dengan baik. Pilihan katanya pun tidak sulit, cukup dimengerti oleh pembaca.
Dari awal Aku membacanya, Aku sudah dibuat penasaran dan gemas dengan hilangnya tokoh Sam. Emosiku seringkali memuncak ketika disudutkan pada tokoh Amora.

Penulis mampu membuatku merasakan kejadian-kejadian yang terjadi didalamnya. Seolah Akulah tokoh tersebut. Penulis juga mampu meracik alur cerita yang tidak terbelit-belit. Cukup jelas.

Aku hampir tidak menemukan typo hanya ada satu kesalahan kata yaitu No problemo (hal 140) yang seharusnya No problem. Tapi itu tidak menjadi suatu masalah dan juga tidak mengurangi nilai kerennya novel ini.

Overall, aku suka dengan novel ini. Aku beri 4 bintang yeaaayyy ^^
Dan aku merekomendasikan novel Awaiting You ini untuk kalian, baik remaja ataupun sudah menikah :)



TEBAR QUOTES

A happy wife, a happy life. (Hal 20)

Jika hal yang buruk terjadi padanya, aku pasti bisa merasakannya. Tapi ini tidak. Hatiku menyatakan dia masih ada. Hatiku meyakinkan bahwa dia masih hidup dan dia baik-baik saja. Mungkinkah hatiku berbohong?. (Hal 39)

Cinta tak semestinya dibatasi umur, Bu. (Hal113)

Kadang, apa yang sudah tidak bisa kita miliki, adalah yang terbaik bagi kita. Memang susah menerimanya. Tapi, pelan-pelan, Ibu bisa memberi waktu buat hati Ibu. Suatu saat nanti, Ibu pasti bisa ikhlas melepas Bapak. (Hal 198)

Jika dia tidak kembali, bolehkah aku kembali dalam hidupmu?. (Hal 205)

Bahwa cinta yang telah pergi bisa saja tergantikan. Bahwa cinta bisa datang dari mana saja. Dari siapa saja. Kapan saja. Pria ini mengajarkan, kesepian itu takkan pernah lama singgah jika kita percaya pada cinta. (Hal 229)






Jumat, 10 Juli 2015

Bulan Beda Rasa

Hujan bulan Juni, Lebaran bulan Juli. Kalimat itu selalu terngiang-ngiang dipikiranku. Soal bulan yang berbeda rasa.
Bulan Juni, aku tak sempat melihat air turun dari langit pada saat itu. Bahkan mendung pun sama sekali tidak ada. Yang aku tahu hujan turun dipelupuk mata dengan derasnya. Goresan demi goresan luka tersayat dihati ini. Ketika halnya aku mendapati kamu mengabaikanku. Kamu menganggap aku seperti angin lalu.
Rindu, ya aku rindu..
Aku rindu saat kali pertama mendengar suara lembutmu. Aku rindu petuah-petuah yang kamu sampaikan. Aku pun rindu saat kamu menegurku.
Rindu..
Sempat aku meminta pada waktu untuk berjalan mundur, ia berbisik padaku "tidak bisa"
Sama halnya dengan nasi basi yang tak bisa kembali seperti nasi benar.
Ada kalimat seperti ini " Semuanya Akan Indah Pada Waktunya "
Kapan waktu yang indah itu? Akankah aku harus terus menunggu? Sampai kapan?
Justru yang aku ingin adalah membuat setiap waktunya, setiap harinya lebih terasa indah. Jadi kenapa harus menunggu?
Aku yakin nantinya hubungan kita akan membaik.

Bulan Juli, aku seperti melihat pelangi dari atas sana. Bulan ini adalah bulan Ramadhan. Berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencari keberkahan dari Allah itulah tujuannya. Dengan harapan tumpukkan dosa dapat dihapuskannya.
Lebaran bulan Juli, semua terlihat baru. Baju baru, tas baru, sepatu baru, dll. Tapi bukan itu yang dimaksudkan. Melainkan hati yang baru seperti bayi yang baru lahir. Masa lalu adalah cerminan untuk masa depan. Agar tidak kembali dan mengulangi kesalahan yang sama dimasa lampau.
Bersyukur..
Aku masih menjumpai Ramadhan tahun ini. Umurku yang tak lagi muda, semoga saja aku masih dipertemukan dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya. Amin

Selasa, 23 Juni 2015

Flash Fiction : Mata Hati





Matanya menggembung ulah airmata yang ia tahan. Balutan gaun kebaya putih nampak elok dibalik cermin dihadapannya.

" Apakah aku sanggup dengan pilihan ini? " batin Melvin terus bertanya

Diambang pintu pengantin pria tampak gelisah. Namanya Rey. Diliriknya jam, tengah menunjukkan pukul 09.45 itu artinya 15 menit lagi ijab kabul akan segera dimulai.

" Kemana dia, lama sekali "

***

" Apa kau mencintaiku Melvin ? " tanya Rey

" Iya, tentu saja "
Jawaban terpaksa yang harus dilontarkan Melvin. Sejujurnya ada satu nama yang sudah lama menjadi tambatan hati Melvin. Bukan Rey melainkan Liem.

" Bohong!! Aku tidak melihat ada cinta dimatamu " gertak Rey

Melvin diam. Ia tidak tau harus bagaimana. Yang ia tau saat ini adalah ia akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

" Mel, lihatlah siapa yang ku bawa "

Pria bertubuh tinggi itu sudah berdiri disamping Rey. Sosoknya sudah tidak asing lagi bagi Melvin.

" Liem " seru Melvin

" Dialah yang pantas bersanding denganmu " ucap Rey seraya pergi meninggalkan Liem dan Melvin berdua.


#FFMataHati

Sabtu, 06 Juni 2015

Asing





Siang itu, kita seperti orang asing. Tidak saling sapa bahkan menoleh pun enggan.  Sikap dinginmu membuatku resah. Ada apa dengan kita? Sebelumnya kita sedekat nadi.

" Tesa " sapa Rian senyum

Aku menoleh seraya tersenyum balik padanya. Wajahnya cerah seperti cahaya syurga. Pandangannya penuh dengan arti. Namun, waktu menjungkir balikan semuanya tanpa permisi. Semuanya hilang.

Kau berubah 99% dari biasanya. Kamu dengan kesibukkanmu dan aku dengan kesibukkanku. Aku tau disela-sela kesibukkanmu, ada orang lain yang mengisi hari-harimu.

Inikah akhir dari kepingan puzzle itu? Berakhir dengan tanpa alasan.

Tuhan, aku ingin tetap melihatnya.



#FFKasihTakSampai


Kamis, 21 Mei 2015

Misteri yang Terkuak

Sesuai dengan rencana sebelumnya Aku, Dito, Keny, dan Rio menuju ke TKP. Kami berempat berniat ingin memecahkan misteri dibalik Villa teratai. Villa megah yang memiliki tiga lantai. Sempat diantara kami terjadi cekcok dan tidak setuju. Keny, ya ia adalah tipikal orang yang penakut. Namun, setelah Dito membujuk dirinya, akhirnya ia mau juga. Kami sangat penasaran dengan Villa Teratai tersebut. Bagaimana mungkin Villa megah ini bisa tidak berpenghuni seperti ini. Banyak orang sekitar berpendapat ketika disiang hari mereka mendengar suara tangisan anak kecil. Sedangkan dimalam harinya mereka melihat langsung sosok anak kecil tersebut yang berbalut pakaian putih. Untuk itu malam inilah, malam yang tepat untuk menguak misteri yang beredar belakangan ini.
" Gelap sekali tempat ini, berdebu pula " kata Rio sambil mengeluarkan beberapa senter dalam ranselnya
" Chintya, kita pulang aja yuk " ajak Keny takut
" Kau ini, sepertinya rasa takutmu sudah overdosis. Kita sudah berada disini tak mungkin kita mundur " ucapku pada Keny si penakut
Malam semakin larut. Udara dingin mulai menusuk badan kami. Sampai saat ini juga kami belum menemukan adanya tanda-tanda sosok misterius itu.
" Sudah sejauh ini nampaknya tidak ada tanda-tanda yang seperti orang-orang katakan " ucap Dito
" Apa mereka berbohong? Rasanya tidak mungkin. Lagipula untuk apa mereka berbohong dengan hal-hal mistis seperti ini " ucapku greget
" Lihatlah, apa yang ku temukan " suara Rio mengalihkan pandangan kami dari seluruh ruangan. Kami pun menghampiri Rio. Lukisan yang dilumuri bercak darah merah.
" Menyeramkan sekali lukisan itu " kata Keny yang tak lepas dari pegangan Dito
" Apa mungkin, sosok anak kecil yang berada dilukisan itu adalah sosok yang tengah dibicarakan oleh masyarakat? " kataku mengada-ada
Rasa penasaran kami semakin menjadi-jadi dengan ditemukannya lukisan itu. Seketika bau busuk menyelimuti seluruh ruangan lantai dasar. Bau busuk tersebut telah menusuk indera penciuman kami.
" Dit, aku sudah tidak kuat lagi, sebaiknya kita pulang saja " rengek Keny
" Bersabarlah, aku yakin sebentar lagi kejadian ini akan berakhir " ucap Dito yang berusaha menenangkan Keny
" sepertinya dilantai dasar ini tidak ada apa-apa. Bagaimana kalo kita cek keatas ? " ajak Rio.
Rio adalah sosok yang pemberani diantara kami berempat. Belum sempat melangkah, tiba-tiba saja bayangan hitam lewat dibelakang kami dengan cepat kilat.
" Apa itu ? Seperti bayangan " kata Rio santai
Kami melanjutkan langkah kami lagi. Sesegera mungkin kami ingin menguak misteri ini dan segera pergi dari tempat ini. Lama-lama tempat ini membuat kami terasa tak nyaman. Bau busuk yang semakin menyengat, berdebu, pengap, dan menyeramkan.
" Aaaaaa " teriakan Keny membuat langkah kita terhenti lagi
" Tolong bantu aku, aku tak dapat menggerakkan kakiku " ucap Keny lagi. Kaki Keny seperti ada yang memeganginya erat. Setidaknya tarikan kita bertiga lebih kuat darinya.
Rupanya ada sosok yang tengah menyambut kami dari atas sana. Sosok berambut panjang dan berpakaian putih yang tidak lain adalah sosok anak kecil.
Sepertinya ia ingin memperlihatkan kita sesuatu. Ia berjalan ke salah satu ruangan dilantai atas. Ruangan tersebut berbeda sekali dengan ruangan-ruangan yang lainnya. Sangat sempit dan pengap. Ia mengajak kami masuk kedalam dan menunjukkan sebuah peti. Entah apa yang ada didalamnya. Kami membukanya perlahan. Kami tak menyangka dengan apa yang kami lihat. Mayat seorang gadis kecil tergeletak didalam peti itu. Biadab sekali yang tega melakukan hal ini semua. Kami mengerti sekarang, anak kecil itu ingin jasadnya dikuburkan di tempat yang layak. Kami pun berusaha menelpon aparat kepolisian untuk menindaklanjuti kasus ini.

#Nulishoror

Senin, 06 April 2015

WAKTU

Waktu...
Dapatkah kau mengulangi waktumu untukku?
Waktu dimana kau pertamakalinya pertemukan aku dengan dia..
Waktu dimana canda tawa itu masih ada..
Waktu dimana saling berbagi cerita itu ada..
Waktu dimana aku dapat tersenyum..
Waktu dimana aku dapat tertawa lepas dengan tingkah konyolnya..
Bisakah itu ?
Bisakah kau mengulangi itu ?

Waktu..
Terkadang aku membencimu..
Kau terus berlari seakan tak kenal lelah..
Tak bisakah kau berjalan pelan ?
Atau bisakah kau berjalan mundur ?
Karna kau yang telah mengubah diriku dan dirinya..
Aku membencimu waktu...


BY : Afika Yulia

Jumat, 03 April 2015

Cerpen : Villa Hitam

Libur telah tiba..Libur telah tiba.. Horee Horee...
Begitulah lirik lagu pada salah satu lagu anak-anak. Sebagai seorang mahasiswa waktu liburan inilah yang paling ditunggu-tunggunya. Butuh penyegaran otak alias refreshing akibat dikejar-kejar tugas (ngedeadline), Uts dan UAS.
Kita berempat berencana ingin liburan ke puncak. Kita rasa disanalah tempat yang cocok menyegarkan otak dengan udara dan panoramanya yang indah. Oh iya, kita berempat terdiri dari 2 cowo dan 2 cewe. Juan, leo, Vio, dan Oca itulah nama kita.
Juan orangnya asik, pemberani, dan hobi traveling. Beda dengan Leo yang cuek dan hobi fotografi. Vio si gadis penakut dan Oca si tomboy. Kita bersahabat sejak dibangku smp.

" Ca, udah dimasukkin semua barang-barangnya ? " tanya Leo
" Udah, tinggal si Vio doang yang belom "
"Ocaaaaa... bantuin dong berat nih " Vio teriak dari dalam rumah
" Kalian tunggu sini aja biar aku yang kedalem " ucap Juan
Tak lama kemudian Juan dan Vio keluar dengan membawa dua koper dan tas ransel milik Vio.
" Astagaa Vi banyak banget. Kau mau sekalian migrasi " kata Oca
" Duh.. udah deh jangan pada bawel. Masukkin cepetan nanti kita kesiangan belum lagi macetnya" ucap Vio sambil berkaca dan merapikan poninya

*sampai di villa
" Akhirnya nyampe juga " kata Vio yang langsung masuk kedalam villa
" Kau yakin Jun ini tempatnya ? " tanya Oca
" Ya kata bokap sih disini tempatnya "
Villa teratai begitulah namanya. Villa yang bercat putih ini dikelilingi oleh view yang indah. Gunung-gunung yang menjulang dapat terlihat jelas dari villa itu. Sawah-sawah, bukit dan lainnya juga ada. Leo yang hobi fotografi tak akan melewati kesempatan ini. Tiba-tiba kami mendengar teriakan Vio didalam. " Aaaaaaaaa.... " kita bergegas kedalam.
" Kau kenapa Vi ? " tanya Juna
" Tadi aku liat kakek-kakek serem banget. Udah gitu dia melihatku " jelas Vio
" Mungkin dia penjaga villa ini " ucap Leo
Kakek itupun datang dari arah dapur dengan membawa suguhan air.
" Misi anak muda. Silahkan ini diminum tehnya " ucap si kakek
" Maaf kek, kakek ini siapa ya ? " tanya Juan pada kakek
" Saya Kakek Umar penjaga di villa ini "
" Ku bilang juga apa. Dasar penakut " sindir Leo pada Vio
" Kalo gitu saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa kalian bisa panggil saya disebelah villa ini " ucap kakek sembari pergi

* Tengah Malam
" Ca, aku laper lagi nih " rengek Vio sambil menggoyang-goyangkan tubuh Oca yang sedang tidur
" Apaan sih Vi, berisik aku lagi tidur. Ganggu aja !! " ucap Oca yang masih memejamkan mata
Tanpa pikir panjang lagi Vio langsung menuju dapur dan berharap ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sebenarnya ia merasa takut tapi apa boleh buat.
" Astaga, kenapa tak ada apa-apa. Pelit sekali Leo belanja pas-pasan untuk sekali makan tadi " gerutu Vio sambil mengobrak abrik lemari dan isi kulkas. Beruntungnya ia menemukan satu butir telur ayam mentah. Setidaknya masih bisalah untuk mengganjal.
Seketika angin berhembus dengan kencang, diikuti jendela dapur yang terbuka lebar, tembok villa yang bercat putih menjadi hitam seluruhnya, tak lama lampu berkedip-kedip. Vio yang sedang masak pun berhenti. Ia merasa sangat ketakutan. " Ada apa ini ? " ucapnya takut
Muncul bayangan hitam menghampiri dirinya. Vio melangkahkan kakinya mundur kebelakang. Bayangan itu semakin dekat dan dekat. Vio pun pingsan.

*Keesokan harinya
" Gimana ? Dia udah sadar ? " tanya Oca sehabis ambil air minum
" Kau liat saja sendiri. Daritadi engga bangun-bangun " kata Leo
Vio pun sadar dari pingsan nya.
" Aku dimana ? Sakit sekali " kata Vio sambil memegangi kepalanya
" Nih diminum dulu Vi " Oca menyodorkan air minum untuknya
" Sebenernya kau kenapa Vi ? " tanya Juan
" Yang aku ingat aku lagi masak didapur tiba-tiba ada angin kenceng banget dan ada bayangan hitam yang mendekatiku. Setelah itu aku tak dapat mengingat apa-apa lagi " jelas Vio
" Mengigo saja kau Vi " ejek Leo
" Engga mungkin aku ngigo. Temboknya ? Kenapa putih ? "
" Aduh Vi dari awal kita dateng kan emang putih " greget Leo
" Iya aku tau, tapi pas kejadian itu berubah jadi hitam "
" Mungkin kau kecapean Vi, jadi mikir yg engga-engga gitu. Istirahat lagi gidah " kata Oca

2 hari kemudian
" Ada yang ngeliat Vio " tanya Oca pada Juan dan Leo yang sedang asyik bermain badminton
" Daritadi pagi kita main, engga liat dia keluar " jawab Juan
Oca kembali masuk kedalam. Seketika ia merasakan hawa yang panas. Sekujur tubuhnya merinding. Langit berubah gelap disertai petir dan angin kencang. Tembok villa menghitam. Suasana semakin mengerikan dan seram. Juan dan Leo pun menyudahi permainannya dan kembali kedalam.
" Ada apa ini ? " ucap Leo
" Lihat lah disana " ucap Juan sambil menunjuk kearah pojok ruangan.
Mereka melihat sosok berjubah hitam melayang-layang. Bukan hanya itu, Vio pun bersamanya dengan keadaan pingsan
" Kau siapa ? Lepaskan teman kami. Kau mau apa ? " tanya Oca pada sosok berjubah hitam itu.
" Kembalikan teman kami "pinta Oca
Sosok berjubah hitam itu tetap diam.
" Mengapa kau diam saja ? Kau tuli ? Ku bilang kembalikan teman kami !! " kali ini Oca benar-benar marah. Jubah hitam itu lalu menurunkan Vio sembari menghilang tanpa sepatah kata pun.
" Vi, bangun vi.. "
" Sampai kapanpun kalian tak akan bisa menyadarkannya " ucap kakek Umar yang tiba-tiba sudah berada disamping kami.
" Lalu bagaimana ? Apa kakek tau ? Bisakah kakek memberitahu kami ? " kata Juan
" Jika kalian ingin teman kalian tersadar, kalian harus mencari mawar hitam sebanyak-banyaknya. Lalu tanam disekitar villa ini. Maka jubah hitam itu akan kembali lenyap dan teman kalian akan tersadar. Apabila kalian tak berhasil menemukannya teman kalian akan mati sia-sia " jelas kakek Umar
" Mawar hitam ? Dimana kita bisa mendapatkannya ? Pasti sulit sekali ? " kata Leo
" Kalian bisa menemukannya dihutan pada saat bulan purnama " ucap kakek
" Bulan purnama? Apa tak bisa malam ini juga  kek? Aku tak ingin Vio mati konyol disini. Kita juga harus kembali ke jakarta secepatnya " Oca semakin panik melihat semua kondisi yang seperti ini.
" Kalian tenang, kalian beruntung karna malam ini adalah malam bulan purnama. Kalian bisa pergi mencarinya sekarang agar tidak terlalu malam. Biar teman kalian saya yang menjaganya.  "
" Tunggu apa lagi kalo gitu kita pergi sekarang " sergah Juan
" Berhati-hatilah kalian, karna akan banyak rintangan yang akan kalian hadapi " kakek Umar mengingatkan mereka
" Terimakasih kek, kami akan berhati-hati " kata Oca

*
Leo melirik arlojinya, jam sudah menunjukkan pukul 22.30 wib. Sudah sejauh ini mereka belum juga menemukan mawar hitam itu. Nampaknya mereka bertiga sudah sangat kelelahan. Kaki yang menuntun langkahnya sudah tak kuat. Keringat yang keluar dari tubuh mereka mulai bercucuran. Nafas mereka ngos-ngosan. Tenggorokan kering. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan bekal yang mereka bawa ala kadarnya.
" Sudah sejauh ini nampaknya tidak ada tanda-tanda mawar hitam itu ada " ucap Juan sambil menarik botol minuman yang sedang diminum Leo
" Hey kau tak sopan sekali "
" Apa kakek Umar membohongi kita ? Tapi rasanya tak mungkin. Untuk apa ia berbohong " kata Oca
" Aku mulai putus asa, kita sudahi saja pencarian ini. Percuma kita tak menemukan apa-apa " Keputus asaan Leo membuatnya seperti orang yang lemah
" Apa yang kau bicarakan !! Apa kau tidak ingat tujuan kita mencari mawar hitam itu untuk siapa hah !!! Vio sedang sekarat !!! " Juan terpancing emosi dengan perkataan Leo barusan
" Sudahlah kalian jangan bertengkar terus, aku pusing melihatnya " gertak Oca
Semua kembali tenang. Hanya terdengar suara gemercik api unggun yang dibuat Juan. Kelelawar sudah mulai banyak yang berkeliaran dihutan. Membuat suasana semakin menakutkan. Belum lagi udara dingin yang menjadi-jadi. Api unggun yang dibuat tak berarti apa-apa. Dingin sekali.
Langit semakin gelap. Bulan mulai menampakkan purnamanya. Tak jauh dari tempat kita istirahat, terlihat cahaya yang begitu terang.
" Lihatlah, apa itu disana " suara Oca membangunkan lamunan kedua temannya itu. Ia langsung menuju cahaya itu berada. Disusul dengan Juan dan Leo dibelakang.
" Mawar Hitam " ucap Oca lirih
Ia pun segera mengambilnya, tapi apa yang terjadi tangannya seperti kesetrum dan memerah.
" Kau tak kenapa-kenapa Ca? " tanya Leo
" Aku engga papa, hanya saja aku tak dapat mengambilnya "
" Tanganmu terluka. Sini aku obati "
"  Aku tak peduli dengan tangan ini Le, yang kita harus pikirkan bagaimana caranya untuk mengambil mawar itu. Kita harus cepat sebelum bulan purnama habis "
" Le, tolong ambilkan tang diransel " pinta Juan
" Untuk apa kau membawa tang sebanyak ini "
" Banyak tanya kau Le, kalian berdua bantu aku sekarang memotong tangkainya dengan tang itu "
Akhirnya mereka dapat mengambil mawar hitam itu sebanyak-banyaknya. Mereka berharap semuanya belum terlambat ketika mereka kembali ke villa.

" Kek, kami sudah menemukan mawar hitam ini " ucap Juan yang ngos-ngosan akibat berlari dari hutan
" Secepatnya sekarang kalian tanam. Waktu kalian tidak banyak lagi " perintah kakek Umar
Juan dan Leo segera keluar dan dengan cepat mereka menanamnya.
" Bagaimana keadaan Vio kek, apa ia baik-baik saja ? " tanya Oca sambil menangis
" Tubuhnya semakin melemah, kita berdoa saja agar semuanya baik-baik saja. Emmm sebaiknya kau bantu temanmu diluar sana "
" Baik kek, demi Vio sahabatku apapun akan ku lakukan "

*
Mawar hitam sudah tertanam disekeliling villa itu. Sesaat kemudian kepulan kabut menyelimuti seluruh bagian dari villa itu. Bulan purnama telah habis. Namun apa yang terjadi? Suara teriakan Vio dari dalam villa yang sangat kencang. Angin kencang berhembus seperti layaknya tornado. Kabut itu perlahan menghilang. Terlihat jubah hitam di depan kami. Ia tertawa senang. Apa usaha kami tak berhasil? Mengapa jubah hitam itu tidak lenyap?
" Kalian pikir kalian bisa melenyapkanku begitu saja " ucap jubah hitam itu dengan sombongnya
" Sia-sia sudah semuanya. Apa yang harus kita lakukan sekarang " ucap Leo panik
Oca mendekati jubah hitam itu.
" Ca, jangan kesana. Kau sudah gila !! "
Oca tak mempedulikan perkataan sahabatnya itu. Yang ia fikirkan hanya keselamatan Vio. Itu saja.
" Emmm, berani sekali kau mendekatiku. Apa kau juga ingin menyusul seperti temanmu yang di dalam "
" Jubah hitam, aku mohon kembalikan keadaan Vio sahabatku seperti semula. Aku mohon "
" Kau fikir aku mau mengabulkan permintaanmu hahahaaha "
" Jubah hitam, dengarkan aku. Aku mohon kembalikan sahabatku seperti semula. Kalau memang harus ada yang menjadi korbannya. Aku rela, aku rela menggantikan posisi dia. Aku rela ... " ucap Oca sambil memejamkan matanya
Tiba-tiba tubuh jubah hitam mengeluarkan kepulan asap.
" Stooooopppp " teriak jubah hitam
" Aku takkan berhenti, sebelum kau mengembalikan sahabatku, aku menyayanginya. Aku mohon, kasian dia begitu menderita. Aku takut kehilangan dia. Aku mohoooooonnn "
" Aaaaaaaa tiddaaaaaakkkk " teriak jubah hitam yang tubuhnya sudah terbakar. Ia pun lenyap menjadi abu.
" Apa yang terjadi ? " tanya Oca yang keheranan setelah membuka matanya
" Jubah hitam telah lenyap. Kau hebat Ca " puji Leo
" Apa maksudmu? Aku tak melakukan apa-apa "
" Ketulusanmulah yang membuat jubah hitam itu lenyap anak muda " ucap kakek Umar yang keluar bersama Vio
" Viooo "
Kita berempat berpelukan.
" Ca, makasih ya kalau bukan karna kamu aku tak bisa sembuh lagi "
" Kau ngomong apa sih Vi, kau ini sahabatku aku tak ingin kehilanganmu " memeluk Vio lagi
" Emm kek kalau boleh saya tau sebenarnya jubah hitam itu siapa ya ? " tanya Juan penasaran
" Maaf anak muda, saya tidak bisa menceritakannya "
" Baiklah kek tak masalah. Terimakasih kakek sudah membantu kami selama disini. Esok kita akan kembali ke jakarta "

TAMAT


By : Afika Yulia Sari