Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 April 2015

Cerpen : Villa Hitam

Libur telah tiba..Libur telah tiba.. Horee Horee...
Begitulah lirik lagu pada salah satu lagu anak-anak. Sebagai seorang mahasiswa waktu liburan inilah yang paling ditunggu-tunggunya. Butuh penyegaran otak alias refreshing akibat dikejar-kejar tugas (ngedeadline), Uts dan UAS.
Kita berempat berencana ingin liburan ke puncak. Kita rasa disanalah tempat yang cocok menyegarkan otak dengan udara dan panoramanya yang indah. Oh iya, kita berempat terdiri dari 2 cowo dan 2 cewe. Juan, leo, Vio, dan Oca itulah nama kita.
Juan orangnya asik, pemberani, dan hobi traveling. Beda dengan Leo yang cuek dan hobi fotografi. Vio si gadis penakut dan Oca si tomboy. Kita bersahabat sejak dibangku smp.

" Ca, udah dimasukkin semua barang-barangnya ? " tanya Leo
" Udah, tinggal si Vio doang yang belom "
"Ocaaaaa... bantuin dong berat nih " Vio teriak dari dalam rumah
" Kalian tunggu sini aja biar aku yang kedalem " ucap Juan
Tak lama kemudian Juan dan Vio keluar dengan membawa dua koper dan tas ransel milik Vio.
" Astagaa Vi banyak banget. Kau mau sekalian migrasi " kata Oca
" Duh.. udah deh jangan pada bawel. Masukkin cepetan nanti kita kesiangan belum lagi macetnya" ucap Vio sambil berkaca dan merapikan poninya

*sampai di villa
" Akhirnya nyampe juga " kata Vio yang langsung masuk kedalam villa
" Kau yakin Jun ini tempatnya ? " tanya Oca
" Ya kata bokap sih disini tempatnya "
Villa teratai begitulah namanya. Villa yang bercat putih ini dikelilingi oleh view yang indah. Gunung-gunung yang menjulang dapat terlihat jelas dari villa itu. Sawah-sawah, bukit dan lainnya juga ada. Leo yang hobi fotografi tak akan melewati kesempatan ini. Tiba-tiba kami mendengar teriakan Vio didalam. " Aaaaaaaaa.... " kita bergegas kedalam.
" Kau kenapa Vi ? " tanya Juna
" Tadi aku liat kakek-kakek serem banget. Udah gitu dia melihatku " jelas Vio
" Mungkin dia penjaga villa ini " ucap Leo
Kakek itupun datang dari arah dapur dengan membawa suguhan air.
" Misi anak muda. Silahkan ini diminum tehnya " ucap si kakek
" Maaf kek, kakek ini siapa ya ? " tanya Juan pada kakek
" Saya Kakek Umar penjaga di villa ini "
" Ku bilang juga apa. Dasar penakut " sindir Leo pada Vio
" Kalo gitu saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa kalian bisa panggil saya disebelah villa ini " ucap kakek sembari pergi

* Tengah Malam
" Ca, aku laper lagi nih " rengek Vio sambil menggoyang-goyangkan tubuh Oca yang sedang tidur
" Apaan sih Vi, berisik aku lagi tidur. Ganggu aja !! " ucap Oca yang masih memejamkan mata
Tanpa pikir panjang lagi Vio langsung menuju dapur dan berharap ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sebenarnya ia merasa takut tapi apa boleh buat.
" Astaga, kenapa tak ada apa-apa. Pelit sekali Leo belanja pas-pasan untuk sekali makan tadi " gerutu Vio sambil mengobrak abrik lemari dan isi kulkas. Beruntungnya ia menemukan satu butir telur ayam mentah. Setidaknya masih bisalah untuk mengganjal.
Seketika angin berhembus dengan kencang, diikuti jendela dapur yang terbuka lebar, tembok villa yang bercat putih menjadi hitam seluruhnya, tak lama lampu berkedip-kedip. Vio yang sedang masak pun berhenti. Ia merasa sangat ketakutan. " Ada apa ini ? " ucapnya takut
Muncul bayangan hitam menghampiri dirinya. Vio melangkahkan kakinya mundur kebelakang. Bayangan itu semakin dekat dan dekat. Vio pun pingsan.

*Keesokan harinya
" Gimana ? Dia udah sadar ? " tanya Oca sehabis ambil air minum
" Kau liat saja sendiri. Daritadi engga bangun-bangun " kata Leo
Vio pun sadar dari pingsan nya.
" Aku dimana ? Sakit sekali " kata Vio sambil memegangi kepalanya
" Nih diminum dulu Vi " Oca menyodorkan air minum untuknya
" Sebenernya kau kenapa Vi ? " tanya Juan
" Yang aku ingat aku lagi masak didapur tiba-tiba ada angin kenceng banget dan ada bayangan hitam yang mendekatiku. Setelah itu aku tak dapat mengingat apa-apa lagi " jelas Vio
" Mengigo saja kau Vi " ejek Leo
" Engga mungkin aku ngigo. Temboknya ? Kenapa putih ? "
" Aduh Vi dari awal kita dateng kan emang putih " greget Leo
" Iya aku tau, tapi pas kejadian itu berubah jadi hitam "
" Mungkin kau kecapean Vi, jadi mikir yg engga-engga gitu. Istirahat lagi gidah " kata Oca

2 hari kemudian
" Ada yang ngeliat Vio " tanya Oca pada Juan dan Leo yang sedang asyik bermain badminton
" Daritadi pagi kita main, engga liat dia keluar " jawab Juan
Oca kembali masuk kedalam. Seketika ia merasakan hawa yang panas. Sekujur tubuhnya merinding. Langit berubah gelap disertai petir dan angin kencang. Tembok villa menghitam. Suasana semakin mengerikan dan seram. Juan dan Leo pun menyudahi permainannya dan kembali kedalam.
" Ada apa ini ? " ucap Leo
" Lihat lah disana " ucap Juan sambil menunjuk kearah pojok ruangan.
Mereka melihat sosok berjubah hitam melayang-layang. Bukan hanya itu, Vio pun bersamanya dengan keadaan pingsan
" Kau siapa ? Lepaskan teman kami. Kau mau apa ? " tanya Oca pada sosok berjubah hitam itu.
" Kembalikan teman kami "pinta Oca
Sosok berjubah hitam itu tetap diam.
" Mengapa kau diam saja ? Kau tuli ? Ku bilang kembalikan teman kami !! " kali ini Oca benar-benar marah. Jubah hitam itu lalu menurunkan Vio sembari menghilang tanpa sepatah kata pun.
" Vi, bangun vi.. "
" Sampai kapanpun kalian tak akan bisa menyadarkannya " ucap kakek Umar yang tiba-tiba sudah berada disamping kami.
" Lalu bagaimana ? Apa kakek tau ? Bisakah kakek memberitahu kami ? " kata Juan
" Jika kalian ingin teman kalian tersadar, kalian harus mencari mawar hitam sebanyak-banyaknya. Lalu tanam disekitar villa ini. Maka jubah hitam itu akan kembali lenyap dan teman kalian akan tersadar. Apabila kalian tak berhasil menemukannya teman kalian akan mati sia-sia " jelas kakek Umar
" Mawar hitam ? Dimana kita bisa mendapatkannya ? Pasti sulit sekali ? " kata Leo
" Kalian bisa menemukannya dihutan pada saat bulan purnama " ucap kakek
" Bulan purnama? Apa tak bisa malam ini juga  kek? Aku tak ingin Vio mati konyol disini. Kita juga harus kembali ke jakarta secepatnya " Oca semakin panik melihat semua kondisi yang seperti ini.
" Kalian tenang, kalian beruntung karna malam ini adalah malam bulan purnama. Kalian bisa pergi mencarinya sekarang agar tidak terlalu malam. Biar teman kalian saya yang menjaganya.  "
" Tunggu apa lagi kalo gitu kita pergi sekarang " sergah Juan
" Berhati-hatilah kalian, karna akan banyak rintangan yang akan kalian hadapi " kakek Umar mengingatkan mereka
" Terimakasih kek, kami akan berhati-hati " kata Oca

*
Leo melirik arlojinya, jam sudah menunjukkan pukul 22.30 wib. Sudah sejauh ini mereka belum juga menemukan mawar hitam itu. Nampaknya mereka bertiga sudah sangat kelelahan. Kaki yang menuntun langkahnya sudah tak kuat. Keringat yang keluar dari tubuh mereka mulai bercucuran. Nafas mereka ngos-ngosan. Tenggorokan kering. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan bekal yang mereka bawa ala kadarnya.
" Sudah sejauh ini nampaknya tidak ada tanda-tanda mawar hitam itu ada " ucap Juan sambil menarik botol minuman yang sedang diminum Leo
" Hey kau tak sopan sekali "
" Apa kakek Umar membohongi kita ? Tapi rasanya tak mungkin. Untuk apa ia berbohong " kata Oca
" Aku mulai putus asa, kita sudahi saja pencarian ini. Percuma kita tak menemukan apa-apa " Keputus asaan Leo membuatnya seperti orang yang lemah
" Apa yang kau bicarakan !! Apa kau tidak ingat tujuan kita mencari mawar hitam itu untuk siapa hah !!! Vio sedang sekarat !!! " Juan terpancing emosi dengan perkataan Leo barusan
" Sudahlah kalian jangan bertengkar terus, aku pusing melihatnya " gertak Oca
Semua kembali tenang. Hanya terdengar suara gemercik api unggun yang dibuat Juan. Kelelawar sudah mulai banyak yang berkeliaran dihutan. Membuat suasana semakin menakutkan. Belum lagi udara dingin yang menjadi-jadi. Api unggun yang dibuat tak berarti apa-apa. Dingin sekali.
Langit semakin gelap. Bulan mulai menampakkan purnamanya. Tak jauh dari tempat kita istirahat, terlihat cahaya yang begitu terang.
" Lihatlah, apa itu disana " suara Oca membangunkan lamunan kedua temannya itu. Ia langsung menuju cahaya itu berada. Disusul dengan Juan dan Leo dibelakang.
" Mawar Hitam " ucap Oca lirih
Ia pun segera mengambilnya, tapi apa yang terjadi tangannya seperti kesetrum dan memerah.
" Kau tak kenapa-kenapa Ca? " tanya Leo
" Aku engga papa, hanya saja aku tak dapat mengambilnya "
" Tanganmu terluka. Sini aku obati "
"  Aku tak peduli dengan tangan ini Le, yang kita harus pikirkan bagaimana caranya untuk mengambil mawar itu. Kita harus cepat sebelum bulan purnama habis "
" Le, tolong ambilkan tang diransel " pinta Juan
" Untuk apa kau membawa tang sebanyak ini "
" Banyak tanya kau Le, kalian berdua bantu aku sekarang memotong tangkainya dengan tang itu "
Akhirnya mereka dapat mengambil mawar hitam itu sebanyak-banyaknya. Mereka berharap semuanya belum terlambat ketika mereka kembali ke villa.

" Kek, kami sudah menemukan mawar hitam ini " ucap Juan yang ngos-ngosan akibat berlari dari hutan
" Secepatnya sekarang kalian tanam. Waktu kalian tidak banyak lagi " perintah kakek Umar
Juan dan Leo segera keluar dan dengan cepat mereka menanamnya.
" Bagaimana keadaan Vio kek, apa ia baik-baik saja ? " tanya Oca sambil menangis
" Tubuhnya semakin melemah, kita berdoa saja agar semuanya baik-baik saja. Emmm sebaiknya kau bantu temanmu diluar sana "
" Baik kek, demi Vio sahabatku apapun akan ku lakukan "

*
Mawar hitam sudah tertanam disekeliling villa itu. Sesaat kemudian kepulan kabut menyelimuti seluruh bagian dari villa itu. Bulan purnama telah habis. Namun apa yang terjadi? Suara teriakan Vio dari dalam villa yang sangat kencang. Angin kencang berhembus seperti layaknya tornado. Kabut itu perlahan menghilang. Terlihat jubah hitam di depan kami. Ia tertawa senang. Apa usaha kami tak berhasil? Mengapa jubah hitam itu tidak lenyap?
" Kalian pikir kalian bisa melenyapkanku begitu saja " ucap jubah hitam itu dengan sombongnya
" Sia-sia sudah semuanya. Apa yang harus kita lakukan sekarang " ucap Leo panik
Oca mendekati jubah hitam itu.
" Ca, jangan kesana. Kau sudah gila !! "
Oca tak mempedulikan perkataan sahabatnya itu. Yang ia fikirkan hanya keselamatan Vio. Itu saja.
" Emmm, berani sekali kau mendekatiku. Apa kau juga ingin menyusul seperti temanmu yang di dalam "
" Jubah hitam, aku mohon kembalikan keadaan Vio sahabatku seperti semula. Aku mohon "
" Kau fikir aku mau mengabulkan permintaanmu hahahaaha "
" Jubah hitam, dengarkan aku. Aku mohon kembalikan sahabatku seperti semula. Kalau memang harus ada yang menjadi korbannya. Aku rela, aku rela menggantikan posisi dia. Aku rela ... " ucap Oca sambil memejamkan matanya
Tiba-tiba tubuh jubah hitam mengeluarkan kepulan asap.
" Stooooopppp " teriak jubah hitam
" Aku takkan berhenti, sebelum kau mengembalikan sahabatku, aku menyayanginya. Aku mohon, kasian dia begitu menderita. Aku takut kehilangan dia. Aku mohoooooonnn "
" Aaaaaaaa tiddaaaaaakkkk " teriak jubah hitam yang tubuhnya sudah terbakar. Ia pun lenyap menjadi abu.
" Apa yang terjadi ? " tanya Oca yang keheranan setelah membuka matanya
" Jubah hitam telah lenyap. Kau hebat Ca " puji Leo
" Apa maksudmu? Aku tak melakukan apa-apa "
" Ketulusanmulah yang membuat jubah hitam itu lenyap anak muda " ucap kakek Umar yang keluar bersama Vio
" Viooo "
Kita berempat berpelukan.
" Ca, makasih ya kalau bukan karna kamu aku tak bisa sembuh lagi "
" Kau ngomong apa sih Vi, kau ini sahabatku aku tak ingin kehilanganmu " memeluk Vio lagi
" Emm kek kalau boleh saya tau sebenarnya jubah hitam itu siapa ya ? " tanya Juan penasaran
" Maaf anak muda, saya tidak bisa menceritakannya "
" Baiklah kek tak masalah. Terimakasih kakek sudah membantu kami selama disini. Esok kita akan kembali ke jakarta "

TAMAT


By : Afika Yulia Sari

Sabtu, 28 Februari 2015

Cerpen : Sahabatku, Cintaku

Sahabat bukan mereka yang menghampirimu ketika butuh, Namun mereka yang tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.

Lembaran-lembaran kertas usang masih tersimpan rapi yang didalam nya penuh kenangan. Ku buka lembar perlembarnya. Betapa ku merindukan masa-masa seperti ini. Foto masa kecilku bersamanya. Sahabatku, ya sahabat masa kecilku. Aku sangat merindukanmu. Cepatlah terbang ke Indonesia. Entah harus berapa lama lagi aku menunggumu. Aku telah bosan dengan penantian ini.
Handphoneku berdering tanda sms masuk. " Lusa aku kembali ke jakarta. Aku sudah tak sabar ingin bertemu denganmu. Aku sangat sangat merindukanmu " 

Aku sangat gembira mendengar kabar ini. Bertahun-tahun aku tak berjumpa dengannya, akhirnya tiba juga saatnya. Seperti apa dia sekarang ?. Aku harus menemui mila sekarang. Mila adalah sahabat karibku. Selama ini ia yang selalu menemaniku. 

*

" Mil, gue seneng banget.. " kataku 

" Seneng kenapa ? " ucap Mila yang sedaritadi mencari-cari sesuatu dilacinya.

" Sini dulu dong Mil, dengerin gue "

" Yaudah lu ngomong aja. Gue juga denger kok "

" Sahabat kecil gue yang di paris, besok lusa mau datang ke Indonesia " 

" Ini dia yang gue cari-cari " Mila telah menemukan sesuatu yang dicarinya daritadi " Sorry Key lu ngomong apa tadi ? "

" Ya ampun Mila, daritadi gue ngomong engga denger ? Besok lusa sahabat kecil gue mau dateng ke Indonesia yang di Paris " 

" Are you sure ? " 

" Yeah, makanya gue seneng banget "

" Kenapa bisa samaan ya, pacar gue juga mau balik ke Indonesia besok lusa "

" Akhirnyaaa... kenalin lah ke gue " 

" Boleh tapi lu juga kenalin tuh sahabat kecil lu itu "

" Itu sih gampang.. "

*

" Key, turun sayang liat siapa yang datang " mama menyeruku dari bawah

" Siapa sih yang berkunjung pagi-pagi buta seperti ini " ucapku dalam hati. " Iya mama sebentar " sahutku. Aku langsung memasukkan kucingku kedalam kandang dan bergegas turun kebawah. Aku tak melihat siapa-siapa. " Bi, bibi.. " aku memanggil bi Imah. 

" Iya non, ada yang bisa bibi bantu ? "

" Mama mana ya bi, barusan dia manggil aku "

" Mama non langsung pergi bukannya mau pergi ke paris ? "

" Astaga bi, oh iya aku lupa "

" Kalo begitu bibi permisi dulu non " 

" Oh iya bi tadi ada tamu yang dateng ? Mana orangnya bi ? "

" Iya non. Itu ada didapur "

" Yaudah makasih ya bi "

Ini orang bertamu seenak jidatnya aja. Engga ada sopan-sopan nya. Berisik sekali di dapur. Apa jangan-jangan dia mau maling ?.

" Heh lo siapa ? " kataku sambil memegangi gagang sapu

" Keyla, itu kamu ? Ini aku Tomi sahabatmu " ucapnya

Sapu yang kupegang terjatuh. Aku tak percaya didepanku benar-benar dia. " Kau diam saja, apa kau tak ingin memeluk sahabatmu ini ? " ucapnya lagi. Aku memeluknya. Betapa aku merindukannya. 

" Lo jahat tom, kenapa baru sekarang kau menemuiku " aku melepas pelukanku

" Gue sibuk banget, maaf ya. Yang penting kan sekarang gue udah pindah ke indonesia. Gue janji gue akan selalu ngelindungin lo " 

Tomi memelukku. Kali ini semakin erat. Tiba-tiba saja aku menyium bau yang sangat menyengat.
" Bau apa ini, Lo belom mandi ya Tom ? " ucapku menghindar  dari Tomi

" Enak saja gue wangi begini "

" Astaga, itu gosong. Matiin kompornya matiin "

Tomi langsung mematikan kompornya. Kita berdua tertawa geli. " Ayam gue gosong kan tuh " 
" Mirip kaya lu Tom haha " 

" Haha sial kau "

" Oh iya Tom nanti siang kita makan siang bareng yuk diluar ? "

" Siang ini ya, emm maaf key gue udah ada janji " 

" Oh gitu yasudah tak apa "

*Siang harinya

" Mil, lo udah lama. Sorry tadi mobil gue mogok " kata Keyla dengan nafas ngos ngosan.

" Iya woles, eh lo sendirian ? Mana sahabat lo katanya mau ngenalin ke gue ? "

" Iya dia engga bisa dateng. Dia udah ada janji sama orang lain. Mil, pacar lo mana ? "

" Dia lagi ke toilet, eh itu dia key "

Aku menoleh ke arahnya. Aku terkejut, dia begitu familiar dimataku. Entah mengapa dadaku terasa sakit ketika ku tau bahwa kedua sahabatku ini berpacaran. 
" Key, lo disini ? " tanya Tomi

" Emm iya, lo disini juga ? " aku menanya balik

" Jadi kalian berdua sudah saling kenal ? " sambung Mila 

" Iya Mil, Tomi adalah sahabat kecil gue yang selalu gue ceritain ke lo "

" Kalian sahabatan ? " tanya Tomi lagi 

" Dunia sempit banget ya ? Bisa kebetulan kaya gini " kata Mila

" Oh iya, mamanya Keyla meminta aku tinggal dirumahnya. Karna saat ini beliau sedang ke luar negeri. Apa kamu izinin aku Mil ? " 

" Tom, aku pasti ngijinin kamu kok. Dan aku engga perlu khawatir "

" Makasih banyak ya sayang "

Aku merasa ada sesuatu yang hilang. Jujur hati ini mengatakan tak rela. Namun aku bisa apa ? Cemburu pun aku tak berhak.

Hari demi hari telah terlewatkan. Baik dirumah maupun disekolah jarang sekali Tomi meluangkan waktunya sedikit untukku bahkan tak pernah. Kini dia berubah. Ia bukan Tomi yang aku kenal sebelumnya. Perhatian dan kasih sayang Tomi udah terbagi ke yang lain. Percuma saja dia berada disini, hubungan kita semakin jauh. Bukan pertemuan seperti ini yang aku harapkan.
" Aku butuh kamu Tom " batinku

Ingin sekali rasanya teriak sekencang kencangnya. Tapi rasanya tak mungkin aku bisa dikeluarin dari kelas nanti. Bel istirahat pun berbunyi aku berniat untuk mengajak Tomi istirahat bareng. Niatku hanya ingin mempererat lagi persahabatan ini.
" Tom, kantin bareng yuk " ajakku

" Emm gue sama Mila mau ke perpus "

" Oh yaudah kalo gitu "

" Mau ikut key ? " ajak Mila

" Engga deh, gue kekantin aja "

" Yaudah kalo gitu " kata Mila lagi

Rasanya melihat mereka berduaan terus, hati ini makin teriris -iris saja. Sakit sekali. Kali ini  aku tak kuasa menahan semuanya. Aku berlari keluar kelas dan mencari tempat sepi. Aku mulai menitikkan air mataku.

" Hapus air mata kamu, nih " ucap Beno yang tiba-tiba datang dan mengulurkan saputangan. " Aku paling tidak suka melihat cewe menangis "

Beno adalah teman baikku. Akhir-akhir ini dialah yang selalu ada disampingku. Memberi perhatian lebih kepadaku, entah apa maksud dari semua itu. 
" Ben, iya makasih " kataku sambil mengambil saputangan itu

" Kau kenapa ? Soal Tomi lagi ? " tanyanya

Aku hanya mengangguk. Aku semakin menjadi-jadi. Beno memelukku dan menenangkan tangisanku. Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing sekali. Pandanganku tak jelas, buram. Hidungku mengeluarkan darah. Aku pingsan dipelukkan Beno.

*Rumah sakit

Kepalaku sakit sekali. Dimana aku ?  Sepertinya bukan dirumah. Tanganku diinfus dan aku memakai selang pernafasan. Aku melihat Beno tertidur pulas. Kenapa aku bisa berada dirumah sakit ? Apa yang terjadi padaku ?. Beno terbangun dari tidurnya, mungkin karna mendengar rintihanku.

" Key, kau sudah sadar ? Sebentar aku panggilkan dokter "

Dokter memasuki ruang rawatku. 
" Bagaimana dok keadaan Keyla ? " tanya Beno

" Waktu Keyla sudah tak lama lagi "

" Maksud dokter ? "

" Keyla mengidap leukimia "

" Dok, tolong lakukan sesuatu dok " paksa Beno

" Maaf, saat ini yang hanya bisa kita lakukan adalah berdoa. Serahkan semuanya kepada Allah. Berharap semoga keyla mendapat mukjizat " 
Dokter meninggalkan ruangan. 

" Key, kenapa kau menutupi penyakitmu ini "

Aku hanya diam. Yang pastinya aku tak ingin menjadi beban orang-orang disekitarku.
" Ben, makasih ya lo selau ada buat gue, selalu ngasih perhatian ke gue. Maaf gue belom bisa bales kebaikan lo ini " ucapku terbata-bata

" Kamu ngomong apa sih. Yang terpenting sekarang aku pengen kamu sembuh "

" Ben, aku nitip ini buat Tomi " kataku sambil menyerahkan sebuah amplop yang berisikan surat.

Dadaku terasa sakit. Nafasku tak beraturan. Sekujur tubuhku mulai dingin. 
" Key, kau baik-baik saja kan ? "

" Asyhadu allaa ilaahaillallah Wa asyhadu anna muhammadarrosulullah " 
Aku telah pergi meninggalkan dunia. Dunia yang mengajarkan aku arti akan hidup. Dunia yang memperkenalkanku dengan seorang sahabat. Dan dunia pula yang mengajarkanku arti rela dan ikhlas. 

*Tiga hari kemudian

" Mil, kamu liat Keyla ? Kamu tau dia ada dimana ? "

" Loh kan kamu yang tinggal dirumahnya "

" Itu dia,  udah beberapa hari ini Keyla tidak pulang "

" Tom, ini ada titipan buat lo " Tanpa basa basi Beno menghampiri Tomi dan menyerahkan amplop itu. Ia pun pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

" Apa ini ? " ucap Tomi sembari membuka amplop itu. Isinya adalah surat yang ditulis Keyla untukknya.

Dear Sahabatku..

Setelah kau membaca surat dariku ini mungkin aku sudah tak ada. Maaf aku pergi tak pamit denganmu. Aku juga mau minta maaf karena selama ini aku menyimpan rasa sama kamu. Dari kecil sampai sekarang rasa itu masih sama. Perhatian kamu, kasih sayang kamu, peduli kamu, semuanya telah membuat aku cinta. Aku cinta kepada sahabatku sendiri. Namun, begitu aku tau kalau kamu sudah bersama dengan yang lain. Aku merasa ada sesuatu yang hilang. Perhatian kamu, kasih sayang kamu ke aku sudah terbagi. Kau tau Tom ? Ketika kau menolak semua ajakkanku. Rasanya menyakitkan sekali. Padahal niatku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kita. Tapi apa daya aku hanya bisa diam. Disaat itu pula aku memilih memutuskan melupakan kamu dan menghapus semua rasa itu. Aku yakin hidup kamu bakal jauh lebih tenang. Terimakasih telah menjagaku. Terimakasih telah menjadi sahabatku. Terimakasih atas semuanya. 
Tom, bisahkah kau mengabulkan permintaan terakhirku ini ? Aku ingin kau meletakkan mawar putih diatas tempat peristirahatan terakhirku. Itu saja.. 
Terimakasih..

Salam sayang sahabatmu

Keyla

Tomi menyesal atas apa yang ia lakukan kepada Keyla. Seandainya waktu dapat diputar. 

" Maafin aku Key, Aku janji sama kamu setiap hari aku akan ke makam kamu dan membawa mawar putih untukmu " 




Jangan sia-siakan sahabatmu atau orang-orang yang sayang kepadamu. Suatu saat kau akan menyesalinya ketika mereka tak lagi ada.


By : Afika Yulia

Kamis, 26 Februari 2015

Cerpen : Karena Cinta Bukan Permainan Part II

" Okeh, semuanya udah pada ngumpul kan ? " teriak Ka Melodi. " Wil, buruan mumpung ada orangnya tuh " Bisik Ka Melodi Pada Ka Willy.

" Semuanya tenang " teriak Ka Melodi lagi

" Mata ini selalu memandangnya dari kejauhan. Beribu-ribu rasa penasaran yang selalu merasuk dalam otakku. Diam-diam aku telah memperhatikannya meskipun dia tak tau. Dia yang baik, dia yang sabar, dia yang lucu, dia yang unik, dan dia yang telah mengajarkanku cinta. Dia adalah Nessa Anggita Laura " jelas Ka Mario

Semua mata tertuju padaku. Aku pun sangat terkejut mendengar pengakuan itu. Denyut jantungku berdetak tak beraturan. Badanku terasa panas dingin. Bagaimana bisa ? Rasanya tak mungkin sekali.

" Ren, ini pasti mimpi "
Iren langsung mencubit pipiku. " Aww.. sakit Ren "

" Itu artinya kau engga mimpi "

Aku hanya bisa terdiam. Aku bingung harus melakukan apa. Ka Willy sudah membuatku salting didepan banyak orang. Perlahan-lahan Ka Willy mendekatiku. Rasanya aku ingin pergi dari tempat ini namun tak bisa. Ia mengulurkan tangannya, aku masih diam saja. Sampai-sampai Iren yang gregetan melihat pola tingkahku dengan sigap meletakan telapak tanganku diatas telapak tangan Ka Willy. Aku melotot pada Iren. Lalu Ka Willy menarikku perlahan ke tengah. 

" Sejak awal pertama melihatmu, aku sudah menyukaimu. Lama kelamaan rasa ini semakin menjadi-jadi. Aku ingin kamu yang mengisi hari-hari kosongku. Menjadi penyemangat hidupku. Apa kau mau ? "

Aku masih terdiam dan tak percaya dengan apa yang dilakukannya terhadapku. Apakah ia tak sadar bahwa baru saja ia sedang menembakku. Lalu aku harus bagaimana ? Terima atau tidak.
" Terima..Terima..Terima.. " seisi kantin bersorak

" Bagaimana ? Apa kau menerimaku ?
Aku pun hanya mengangguk tanda aku menerimanya. Ka Willy memelukku didepan banyak orang. Malu sekali.

*
Sudah satu minggu aku menjalani hubungan dengan Ka Willy dengan baik. Sampai saat ini aku masih tak percaya. Entahlah kenapa bisa ? Bukankah aneh sekali ? . Sudah berkali kali aku menanyakan hal ini. Berkali kali juga Ka Willy hanya menjawab " Bukan fisik kamu yang aku liat, tapi hati kamu " . Ya hanya itu. Sejujurnya aku telah memendam rasa padanya saat dulu menjalani ospek. Waktu itu aku sadar siapa aku dan siapa dia. Untuk itu pada saat itu juga aku memutuskan melupakan rasa yang pernah ada  padanya.

" Nes, Nes ... " ucap Ka Willy membangunkan lamunanku. Sepertinya aku hobi sekali dengan melamun.

" Eh iya ka, ada apa ? "

" Kenapa engga dimakan ? Kamu engga suka . Aku ganti ya ? "

" Engga usah ka aku udah kenyang. Sepertinya aku tak enak badan. Aku ingin pulang saja " pintaku

Ini pertama kalinya Ka Willy mengantarkanku ke rumah. Karna sejak kemaren ia sibuk dengan kegiatan organisasinya. Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Sesekali Ka Willy memperhatikanku. Mungkin terasa aneh baginya. " Kau kenapa ? Seharian ini kau lebih banyak diam. Ada masalah ? " Ka Willy menegorku.

" Tak apa ka " jawabku singkat. " Oh iya nanti lampu merah belok kiri ka " kataku lagi

" Okeh "

Aku masih saja terdiam tanpa mengeluarkan kata sepatah sedikit pun kecuali mengarahkan jalan.
" Emm ka stop ka "

" Kenapa berhenti disini ? "

" Kita sudah sampai ka itu rumahnya " kata Nessa sambil menunjukkan rumah tante Nia

" Loh itu bukannya rumahnya Mario ? Kenapa kamu bisa tinggal disini " tanyanya

" Emm, tante Nia lebih tepatnya bundanya Mario adalah teman bisnis kedua orang tuaku. Untuk itu tante Nia mengajakku tinggal bersamanya. Kaka tau kan, semenjak orangtuaku meninggal aku udah engga punya siapa-siapa lagi "

" Aku minta maaf ya, aku engga bermaksud buat kamu sedih. Mulai sekarang kamu engga akan merasa kesepian lagi. Ada aku disini " ka willy langsung memelukku erat

" Emm ka aku masuk duluan ya, kaka mau mampir ? "

" kaka ada urusan lagi. Mungkin next time "

" Yaudah aku masuk, hati-hati dijalan ka "

" Oh iya jangan lupa besok malam promnight "

Hampir saja aku lupa. Apa aku harus datang ? Aku hanya tersenyum.

*

Dibalik pintu aku mendengar ada yang ribut-ribut. Aku pun segera masuk untuk memastikannya. Pantas saja, ini mah sudah perang dunia ketiga. Untung saja bunda, Audi, dan bang Kevin tak lagi dirumah.
" Plak .. Plak .. " tamparan mendarat pada pipi Mario

" Dasar buaya " ucap perempuan itu sambil pergi. Ia menatapku sinis dan bilang " Lu cewenya Mario juga ? Jangan mau dikadalin sama buaya " perempuan itu langsung pergi. Aku hanya tertawa geli.

" Plaaaakk.. " tamparan kedua dari perempuan kedua " Dasar playboy, gue benci sama lo "
Lagi - lagi aku ditatap sinis dia pergi tanpa mengeluarkan kata sedikit pun padaku. Aku mendekati Mario.

" Hahaha .. Makanya jangan sok sok an playboy jadi orang. Emang enak, rasakan :D " entah mengapa aku merasa senang sekali.

" Rese lu ... "

*Malam Promnight

" Ka Willy mana. Udah jam berapa ini ? " gerutuku dalam hati

" Heh cewe jadi-jadian. Mau bareng engga ? "

" Aku mau nungguin Ka Willy saja "

" Si Willy engga bakalan jemput. Lu mau nunggu sampe itu acara selesai ? " aku hanya menggelengkan kepalaku. " Yaudah ayok " Mario menarikku kedalam mobil.

" Kenapa Ka Willy tak menjemputku, padahal tadi dia sudah janji " gumamku

Banyak tamu undangan yang hadir. Ramai sekali. Semua datang dengan pasangannya. Sedangkan aku dengan si cowo tengil. Ku tengak tengok dimana Ka Willy berada. Acara sudah dimulai. Aku melihat Ka Willy berada dibangku depan bersama Ka Melodi. Aku sedikit kecewa, kenapa dia bersikap seperti ini.  Dengan terpaksa aku mengikuti Mario. Sangat membosankan bagiku, entahlah mereka yang berbicara didepan sana ngomong apa. Sampai saatnya pengumuman King dan Queen aku baru mendengarkannya.

" Yang menjadi King malam ini adalaaaahhh... Willy Witson " teriak MC . Semua bertepuk tangan

" Dan yang menjadi Queen malam ini adalaahahh... Nessa Anggita Laura "

" Heh cewe jadi-jadian nama lu disebut itu " kata Mario sambil menyenggol tanganku.

" Iya aku tau " aku langsung ke depan panggung

Aku tak menyangka bisa menjadi Queen malam ini. Sepertinya yang menilai matanya sudah buta. Bagaimana tidak malam ini penampilanku berkacamata, rambutku dikepang, dan aku mengenakan dress putih. Ka Willy lah yang menginginkanku seperti itu. Tiba-tiba saja Ka Melodi keatas panggung. MC mempersilahkan ia bicara.

" Selamat malam guys " sapanya " Mungkin langsung aja ya, saya mewakili Willy berdiri disini ingin memberi pengakuan kepada kalian semua bahwa Willy Witson pada saat itu tidaklah benar-benar menjadikan Nessa Anggita Laura sebagai kekasihnya " jelas Melodi

" Kenapa Mel bukankah mereka sangat cocok ? " tanya salah satu temannya.

" Iya Ka mereka cocok sekali " Ucap teman seangkatanku

" Cocok darimana ? Jauh banget kali. Liat dong Willy cakep masa iya mau sama cewe culun gitu " ujarnya. " Lihat saja penampilannya malam ini, ih engga banget deh " sambungnya lagi.

Kali ini aku benar-benar tak kuasa menahan air mata. Dan herannya Ka Willy diam saja. Katakan jika memang itu benar, katakan jika itu salah.

" Will, lu terus terang dong ke mereka semua kalo lo jadiin cewe culun itu sebagai taruhan doang. Emm iya kan Mario ? " ucap Melodi lagi dan membawa-bawa nama Mario

" Kamu keterlaluan Ka, kamu puas udah ngejatuhin harga diri aku didepan banyak orang. Kamu puas ? Seharusnya dari awal aku tau kaka engga benar-benar tulus. Aku terlalu bodoh bisa tertipu dengan mulut manis kaka.  Selamat kaka udah berhasil " aku pun berlari pergi dari tempat itu.

Aku engga habis pikir Mario sama sekali tak memberitaukan aku soal ini. Kenapa dia diam saja ? Jahat sekali. Aku benci mereka. Ku putuskan esok hari pindah ke Bandung. Melanjutkan kuliah disana dan mengelola perusahaan orang tuaku.

2 tahun kemudian

Aku telah lulus dari kuliahku. Aku tak sabar ingin cepat-cepat mengelola perusahaan yang udah dibangun oleh orangtuaku. Aku pun sama sekali belum melihatnya seperti apa dan dimana perusahaan itu berada. Yang aku tau ada di Bandung. Ku ambil handphoneku untuk menelpon pengacara keluargaku. Aku ingin memastikan kapan aku bisa mengelola perusahaan yang diwariskan untukku. Syukurlah besok lusa aku bisa langsung melihat tempatnya.
Seketika aku teringat dengan Mario, cowo tengil itu. Ahsudahlah tak penting memikirkan hal itu, itu hanya masa lalu.

*Di Perusahaan

" Ini dia perusahaan yang selama ini dibangun ayah kamu Git " kata om Rudi selaku pengacaraku

" Wah, besar sekali om " aku terkagum kagum

" Mari kita kedalam "

Aku semakin bangga terhadap orangtuaku. Dengan upaya kerja kerasnya membuahkan hasil seperti ini. Beberapa karyawan menyambut kedatanganku. Berlebihan sekali, seperti presiden saja. Walau begitu aku harus menghargai mereka. Karna sebaliknya itu artinya mereka menghormatiku. Tapi tunggu, seperti ada pemandangan yang tak asing lagi bagiku. Seseorang yang dulu yang pernah mempermainkan aku. Ka Willy. Kenapa dia berada disini ? Apa dia bekerja disini ? Dibagian apa ?. Apa ia mengenaliku ? Entahlah sepertinya tidak.

Sudah sebulan aku mengelola perusahaanku. Semua masih terlihat baik-baik saja. Ada satu hal yang menjadi pikiranku saat ini. Jangan sampai ka Willy itu mengetahuiku. Aku sengaja menyamarkan namaku menjadi Gita. Karna aku tak ingin mengingat ingat kejadian 2tahun yang menyakitkan itu. Hobi melamunku ternyata makin menjadi-jadi. Sampai-sampai aku lupa dengan pekerjaanku.

" Tok..tok..tok.. " Suara ketukan pintu diruang kerjaku

Aku pun mempersilahkannya masuk " Masuk "

" Permisi bu, ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani "

Oh my god. Ka willy yang menemuiku. Jangan sampai ia mengenaliku. Aku engga boleh panik dan tetap tenang agar ia tak curiga padaku.

" Oh iya jangan panggil saya ibu. Panggil saja Gita. Ini sudah semua, ada yang lain lagi ? "

" Terimakasih bu eh Gita. Tidak ada kalo gitu saya permisi "

Ternyata Ka Willy masih belum mengenaliku. Baguslah kalo begitu. Dia terlihat berbeda. Sikapnya lebih sopan. Ahsudahlah

*

Siang ini aku harus meeting dengan klien ku yang di jakarta. Mau engga mau aku harus terbang pagi ini juga. Segala sesuatunya telah ku persiapkan dari jauh-jauh hari. Aku tak ingin melewatkan tender yang besar ini. Aku tak sendirian, seharusnya dengan sekretarisku, Vina. Namun ia berhalangan lantaran sedang sakit. Ka Willy lah yang menggantikannya. Aku tak bisa mengelaknya. Tak ada lagi yang bisa diandalkan selain dia.

* Ruang Meeting

Sudah hampir setengah jam aku menunggu pimpinan perusahaan ini tak kunjung datang. Bukan aku saja yang merasa bosan. Pihak perusahaan lain pun merasakan hal yang sama.

" Maaf, saya terlambat. Dijalan macet sekali. "

Akhirnya datang juga pemilik perusahaan ini. Aku sangat mengenalinya. Bukankah ia Mario ? Cowo tengil itu ?. Entah kenapa disela-sela penjelasan meeting ia selalu memperhatikanku. Apa dia mengenaliku ? Semoga saja tidak.
2 jam kemudian meeting telah selesai. Aku berharap perusahaan yang ku garap dapat memenangkan tender ini.

" Will, kamu ambil mobil ya saya tunggu disini " kataku

" Baik bu Gita "

Tiba-tiba saja ada seseorang yang menegorku. " Ada yang bisa saya bantu ? " . Mario yang menyapaku.

" Oh tidak pak, terimakasih. Itu dia mobilku sudah datang "

" Mari bu, biar saya yang bawa " ucap ka Willy

" Gita. Nessa Anggita Laura "

Aku memberhentikan langkahku menuju mobil. Aku terkejut dengan ucapan Mario barusan. Apa itu artinya ia mengenaliku ?

" Apa ? Maksud lo apaan yo ? Jelas-jelas ini bu Gita "

" Lo sama sekali engga ngenalin dia Will ? Lo perhatiin baik-baik "

Ka Willy menatapku semakin dalam. " Nessa " itulah kata yang keluar dari mulutnya.

Ka Willy memelukku dan menghapus airmataku. " Kau kemana saja Nes, selama ini aku mencarimu. Dan selama aku bekerja di perusahaanmu kenapa kau seolah olah tak mengenaliku "

Aku masih diam. Luka yang dulu pernah aku buang jauh-jauh kini malah kembali. Rasanya sakit sekali bila mengingat hal itu.

" Aku tau waktu kejadian itu kamu pasti marah dan kecewa sama aku. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tau. Cinta aku engga pernah palsu untuk kamu " ucap Ka Willy lagi

Mario pun mendekatiku seraya berkata, " Bukan hanya Willy, tapi aku juga. Aku mencari kamu. Tak ada satupun yang tau keberadaanmu seolah olah kau ditelan bumi. Aku khawatir sama kamu dan aku sayang sama kamu " ucap Mario yang semakin dalam menatapku.

" Kalau begitu kau harus memilih diantara kita berdua. Aku atau Mario "

Aku menghela nafas berkali-kali.
" Maaf, aku tak bisa memilih diantara kalian berdua. Aku engga mau masuk ke lubang yang sama lagi. Lagipula aku sudah mengubur rasa ini dalam-dalam "

" Tapi Ness, aku cinta sama kamu " kata ka Willy

" Apa ka ? Cinta ? Bulshit... !!! . Kenapa pada saat kejadian waktu itu kaka diam saja. Sama sekali tak membelaku sedikit pun "

" Aku minta maaf Ness, aku bingung harus berbuat apa "

" Sudahlah ka, tak usah dibahas lagi masalah itu. Aku sudah melupakannya "

" Apa masih ada kesempatan untuk kita berdua ? " ucap Mario penuh harap

" Sudah ku bilang, aku tak ingin masuk ke lubang yang sama. Asal kalian tau, cinta itu bukan permainan. Cinta itu anugerah. Tak bisa seenaknya kalian mempermainkannya begitu saja "

Aku memutuskan kita bertiga berteman saja. Ya itulah keputusan yang terbaik menurutku.


Jangan sekali-kali kau mempermainkan hati seorang wanita, karna hati yang patah takkan mungkin kembali utuh. Suatu saat pasti kau menyesalinya



TAMAT



Cerpen : Karena Cinta Bukan Permainan Part I

Aku selalu saja memikirkan kejadian itu. Dimana kejadian yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku sebulan yang lalu. Andai saja waktu itu mereka tak pergi ke bandung untuk mengelola bisnisnya mungkin saja mereka tidak mengalami kecelakaan dan pastinya mereka masih disampingku saat ini. Namun, aku tak bisa memungkiri lagi semua telah terjadi. Mungkin Tuhan telah berkehendak lain. 
Well, nama aku Nessa Anggita Laura. Kini aku hanya tinggal bersama Bibi dan Pak Asep. Segala sesuatu yang aku inginkan semua tersedia, namun aku masih merasa ada yang kurang. Ya keluarga, aku merasa kesepian. Aku rindu akan kasih sayang kedua orangtua. 
Aku terlahir dari kedua orang tuaku yang kaya. Meskipun begitu aku tak merasa sombong dengan apa yang ku miliki. Karna itu semua bukan hasil dari jerih payahku sendiri. Penampilanku, bisa dibilang amat culun dengan rambut dikepang satu kebelakang dan berkacamata. Sering sekali teman-teman dikampus menghinaku. Aku tak peduli dengan mereka, niatku baik untuk mencari ilmu. 

" Nes, Nes... " ucap Iren yang menyenggol lenganku. Seketika itu juga aku terbangun dari lamunanku. 
Iren Natasha adalah sahabat terbaikku. Dia yang selalu ada disampingku. Ya meskipun agak tomboy dikit. 

" Apaan sih Ren " jawan Nessa ketus

" Itu Ka Willy manggil kamu "

" Yaudahlah biarkan saja. Mungkin kau salah dengar. Mana mungkin ia menyapa cewe culun sepertiku " jelas Nessa

" Sini ikut aku " kata Iren sambil menarik tangan Nessa keluar kantin menuju mobilnya.

" Mau kemana sih Ren ? "

" Udah deh ikut aja "

Iren langsung menancapkan gas menuju sesuatu tempat. Ternyata Iren mengajakku ke salon. Ku pikir dia ingin mengajakku kemana. To the point aja kali minta temenin kesini, jadi kan engga perlu narik narik aku segala.

" Yaelah Ren, kalo kamu minta temenin nyalon bilang dong, engga usah make acara narik narik segala " 

" Siapa bilang aku yang mau nyalon ? "

" Lalu siapa ? "

" Ssstt... udah deh diem aja, bawel amat sih " pinta Iren

" Maaf, permisi ada yang bisa kami bantu ? " sapa salah satu pegawai salon 

" Eh iya mba, tolong make over temen saya yang satu ini ya " jawab Iren

" Okeh mba, serahkan pada kami "

" Ren, astaga apa-apaan ini "

" Udah deh Nes, diem aja. Toh ini juga buat kebaikanmu "

1 Jam berlalu.

" Nes, itu kamu ? " kaget Iren yang melihat perubahan sahabatnya itu

" Ya iyalah Ren, memangnya siapa lagi. Aku jelek ya ? "

" Apaan sih Nes, sumpah deh kamu cantik banget "

" Halah muji nya bisa aja kamu. Bisa-bisa aku terbang ini haha ". Ucap Nessa sambil tertawa " Oh iya Ren, aku lupa kalo malem ini aku akan menginap dirumah tanteku. Ayo Ren kita pulang " sambung Nessa

" Iya iya sabar, bayar dulu ini "

*Malam harinya

"Assalamualaikum tante "

" Waalaikumsalam. Nessa ini kamu nak ? "

" Iya ini Nessa, memangnya ada yang aneh denganku ? " tanyaku heran

" Kau tumbuh menjadi anak yang manis " puji tanteku

" Gula kali bun manis, haha :D " sambung dari salah satu anak tanteku

" Oh iya tante lupa, ini audi dan kevin. Mereka anak tante "

" Salam kenal " kataku sambil tersenyum

" Kevin, tolong antarkan Nessa kekamar mario. Biar nanti mario sekamar sama kamu. Kasian Nessa pasti udah capek "

" Makasih ya tan, udah ngizinin Nessa tinggal disini "

" Sama- sama sayang, jangan panggil tante panggil bunda dong. Mudah-mudahan kamu betah ya, anggap aja seperti rumah kamu sendiri "

" Iya tan eh bunda. Insyaallah Nessa bakalan betah disini "

*
Kurebahkan tubuh ini diatas kasur. Lagi lagi aku termenung. Aku bersyukur karna masih diberi kesempatan untuk memperoleh kasih sayang orangtua melalui tante Nia. Bukan itu saja, aku tak akan lagi merasa kesepian sebab ada Audi dan bang Kevin. " Pasti menyenangkan " gumamku. Ku lirik jam ditanganku yang menunjukkan pukul 21.00. Aku pun bergegas tidur karna esok ada kuliah pagi.
Baru saja aku memejamkan mata, aku merasakan ada seseorang yang tengah tidur disebelahku dan ternyata itu benar. Aku pun sontak kaget dan teriak sejadi jadinya. " Aaaaaaa.... kau ini siapa ? Mau apa kau masuk kesini ? Apa jangan jangan kau mao maling ? " Aku pun respect memukulinya dengan gagang sapu.

" Aw, aw... gue bukan maling " kata orang itu sambil mengelak dari pukulan Nessa.

" Mana ada maling ngaku. Maling ngaku penjara penuh " ucapku terus memukuli yg ku pikir orang itu maling.


Bunda Nia, Audi, dan Bang Kevin langsung keluar dari kamar setelah mendengar jeritanku.

" Ada apa ini ribut-ribut " tanya bunda

" Ini bun, dia mau maling " jawab Nessa dengan nafas terengah engah

Bang Kevin, Audi dan bunda tertawa geli.

" Loh kalian malah ketawa ? Ini maling loh. Kita kudu lapor polisi sekarang juga "

" Engga usah lapor polisi Nes, itu maling udah jinak haha :D " lawak bang Kevin

" Sudah sudah ini hanya salah paham. Jadi, dia mario anak bunda " jelas bunda

" Jad.. jadi.. kamu bukan maling ? "

" Iya bukanlah "

" Yasudah kalian kembali ke kamar masing-masing " bunda bergegas pergi dari kamarku. Disusul dengan Audi dan bang Kevin.

" Sorry ya, aku engga tau. Aku kira maling " kata Nessa merasa bersalah

" Sorry, sorry . Bonyok nih gue " ucap Mario yang merintih kesakitan

*
Ku berjalan menyusuri koridor. Entah mengapa terasa begitu aneh. Orang-orang disekelilingku melihatku dengan terbelalak. Begitu pula aku yang sesekali mendengar percakapan mereka.
" Cantik sekali dia "
" Itu bukannya Nessa si cewe culun itu?"
" Gileeee... cantik bener "

Aku terus berjalan tanpa mempedulikan itu semua.

" Ehciyeeee... yang jadi pusat perhatian semua orang " ledek Iren

" Iren, mulai deh "

Aku langsung mengambil hpku ditas. BBM dari Ka Willy:
" Nes, abis dzuhur masih ada jam tidak ? "
Aku terperanjat kaget. Tumben sekali Ka Willy bbm ku. Padahal hampir tak pernah dia menghubungiku.

Ku balas saja " Tidak ada ka, kenapa ? "
" Aku ingin mengajakmu makan siang berdua. Apa kau mau ? "

Aku semakin terkaget kaget dibuat olehnya. Bagaimana mungkin ketua senat mengajakku untuk makan siang berdua. Dia itu ketua senat, kapten tim basket, pintar, tampan, bahkan bisa dibilang dia adalah idaman cewe cewe dikampusku. Sedangkan aku hanya cewe culun.

" Ren, bagaimana ini Ka Willy mengajakku makan siang bareng. Aku harus jawab apa ? " tanyaku pada Iren.
Iren langsung merebut hpku dari tanganku. Dengan kilat ia mengetik " Iya ka aku mau " sebagai balasan bbm dari Ka Willy.

" Ren, siniin engga hpku " aku langsung merebut kembali hpku. Dan aku kesal dengan Iren yg dengan lancangnya membalas bbm dari ka Willy. " Ireeeeeeeennn, rese banget sih. Mau taro dimana wajahku ini. Jual mahal dikit kek "

" Haha udahlah jalanin aja. Sebenernya juga kau mau kan ? Haha Ciyeee ciyeee... "

" Apaan sih Ren, kau ini meledek saja kerjaannya "

" Sssttt.. berisik amat yak nih anak dua. Dengerin noh dosen lagi nerangin juga " ucap salah seorang temanku yang duduk didepanku.

Kita berdua spontan langsung diem berlaga dengerin apa yang disampaikan dosen. Ku lirik lagi ponselku. " Aku tunggu diruang senat " balasan dari Ka Willy. Dan aku mereadnya saja.

*
Kulangkahkan kaki ini menuju ruang senat. Ku lihat tak ada siapa-siapa. Ku urungi niatku untuk menunggunya siapa tau dia masih dikelas atau di mushola. 1 jam 2 jam telah berlalu. Ka Willy tak kunjung datang. " Tega sekali dia membuatku menunggu lama seperti ini. Apa dia mempermainkanku " Batin Nessa terus bicara

" Heh cewe jadi jadian. Sedang apa kau disini ? " ucap Mario yg tiba tiba datang


" Loh ? Kamu ngapain disini ? " Nessa menanya balik. " Masa iya cowo tengil ini kuliah disini juga " ucap Nessa dalam hati

" Ah sudahlah tak penting. Kau tau dimana Ka Willy ? "

" Lu nyariin si Willy ? Dia udah pulang sama temen cewenya "

" What ? Kau pasti bohong kan ? "

" Ngapain juga gue boong sama lu, engga ada untungnya "

Tanpa pikir panjang lagi aku langsung pergi meninggalkan Mario. Betapa kesalnya aku Ka Willy telah membohongiku. Dia pikir dia siapa ? Bisa seenaknya memperlakukanku seperti ini. Seharusnya aku tau diri, mana mungkin Ka Willy mengajakku makan berdua. Aku terlalu bodoh. Aku hanya cewe culun, mau dirubah seperti apapun wajahku tetep aja culun. Mana ada sih yang mau sama cewe culun. Sepanjang perjalanan kerumah aku terus ngedumel.

*Jarum jam menunjukkan pukul 22.30
" Haus sekali rasanya " aku terbangun dari tidurku dan terpaksa beranjak ke dapur. Baru setengah jalan aku mendengar suara-suara yang tengah bercengkrama diruang tamu. Ternyata cowo tengil dan teman-temannya  yang sedang mengerjakan tugas. Aku merasa diantara mereka ada yang tak asing lagi dimataku. Ya Ka Willy. Tiba-tiba saja Ka Willy menengok ke arahku. Aku pun berlari secepat kilat. " Semoga saja dia tak tau kalo aku disini " aku berkata dalam hati

*Keesokan harinya
" Sepi sekali ini rumah mentang- mentang weekend. Pada kemana ? " Nessa celingak celinguk. Terdengar suara seperti orang memasak didapur.

" Oh masih ada orang toh. Eh cowo tengil  pada kemana semua ? "

" Bunda sana Audi ke bandung ada urusan, Bang Kevin kerja " ucap Mario sambil mengaduk aduk masakannya.

" Oh gitu, kau lagi ngapain ?

" Lo engga liat, mata udah empat juga "

" Yaelah sewot amat. Eh makasih loh udah dimasakin "

" Pede lu overdosis. Siapa juga buat elu. Ini semua buat tamu spesial gue "

" Yaelah bagi dikit nape sih, pelit amat "

" Bodo amat, noh masak sendiri "

" Dasar koreeettt... " teriakku

Mario sibuk mempersiapkan makan siangnya. Sedangkan aku sibuk memasak seadanya yang aku bisa. 15 menit berlalu nasi goreng buatanku jadi. Terpikir olehku penasaran dengan teman spesialnya Mario itu. Rasa penasaranku lebih besar ketimbang rasa laparku. Diam-diam aku mengintip mereka berdua. " Siapa perempuan itu ? " tanyaku dalam hati.

*

" Kebakaran woy kebakaran " teriak mario ditelinga Nessa. Yang semata mata untuk membangunkan Nessa dari tidur nya.
Aku yang mendengar teriakan itu langsung terbangun. Bagaimana tidak, itu suara kencang sampai gendang telingaku ingin pecah dan membuatku panik.

" Dimana kebakaran, dimana kebakaran ? " panik Nessa

" Hahahahahhahaha :D " Mario tertawa terbahak-bahak " Disini nih kebakaran " nunjuk idungnya

" Apaan sih, engga lucu tau engga becandanya. Ganggu orang tidur aja " keluh Nessa

" Lu nya aja yang kebo daritadi gue bangunin engga bangun-bangun "

" Rese banget sih. Ada apaan bangunin aku "

" Gue mao pergi. Tolong jaga rumah ya. Kunci semua pintu. Kesian cewe gue udah nunggu didepan " buru-buru Mario pergi dari kamarku. Begitu pula denganku yang cepat-cepat menyusulnya.

" Eh cowo tengil, tungguuu.. " teriakku.
Tak sempat aku menahannya, mereka sudah masuk kedalam mobil. Tapi tunggu deh, aku merasa heran kenapa perempuan itu beda ? Bukan perempuan yang seperti tadi siang ?

" Heeemm, dasar cowo tengil playboy cap kapak " pikirku dalam hati

*

" Nes, dikantin ada apaan deh ? " tanya Iren padaku

" Manakutau, kau nanya aku lalu aku nanya siapa ?

" Nanya kang bajigur. Udah ayok kita liat " Iren menarik tanganku

Ternyata Ka Willy dan teman-temannya yang membuat seisi kantin seperti ini. Sebenarnya apa yang ingin mereka lakukan.



NEXT PART

BY : Afika Yulia

Rabu, 03 Desember 2014

Cerpen : Cinta yang tak berujung

Saat itu Tisa baru saja lulus dari SMP dengan nilai yang memuaskan. Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMA nya di Pondok Pesantren. Singkat cerita, hari pertama di pondok ia mendapati banyak teman. Dikamarnya, hanya ia dan sepupunya lah santri yang berasal dari jakarta. Dikamar pula tidak hanya terisi oleh satu angkatan, ada kaka kelas dan adek kelas. Dari sekian banyak ponpes yang ada, ia lebih memilih yg berada di daerah Jawa. Teman-temannya pun berasal dari berbagai daerah. Lokasi ponpes ini pun di daerah gunung, kebayang kan gimana hawanya?. Disini pondok untuk putra dan putri dipisah. Ngga mungkin kan dicampur?.

Kalau tadi bicara tentang pondoknya, nah sekarang bicara tentang sekolah nya. Jarak antara pondok dengan sekolah lumayan dekat. Jadi, tak perlu kendaraan. Tisa berniat ingin mengambil jurusan Ips.

Suatu ketika di dalam kamar. Tisa dan sepupunya sebut saja Via sedang asik ngobrol-ngobrol.
"Gimana Vi sama cowo lo?  Dia udah tau kalo lo lanjut disini?" Tanya Tisa.
"Udah sih, tapi... " Via tak melanjutkan perkataannya.
"Tapi kenapa Vi? Apa reaksi dia? "
"Dia mutusin gue gitu aja dengan alasan dia ngga sanggup yang namanya LDRan".
"Terus...? Kok tampang lo ngga ada sedih-sedihnya Vi? Haha.. "
"Iyalah, ngapain sedih justru gue bersyukur akhirnya terbebas juga sama makhluk yang bernama cowok. Haha" ucap Via sambil tertawa.
Tia mulai risih karna sedari tadi ada kaka kelas yang memperhatikan nya dan sepupunya berbicara dengan tatapan yang sinis. "Ya ampun tuh kaka kelas kenapa deh ngeliatin nya gitu amat. Emang ada yang aneh sama gue?perasaan engga deh" kata Tisa dalan hati.

Sudah 3 hari Tisa dan Via sepupunya berada dipondok. Peraturan-peraturan yang ada mereka jalankan tanpa melanggarnya satu pun.
Saat itu waktu jam makan siang, seperti biasa Tisa dan Via selalu berkumpul dengan teman sekamar nya. Tiba-tiba ada adek kelas yang menegor Tisa "Mba Tisa, lain kali jangan ngomong pake gue lo ya " ucap Andin yang masih duduk dibangku 2 SMP.
"Loh?  Kenapa emang ndin?" Tanya Tisa.
"Engga papa sih mba. Cuma takutnya ada yang engga suka".
"Oh okeh lah klo begitu".

*(Singkat cerita) Ramadhan telah tiba. Segala aktivitas dipondok makin bertambah. Seperti ngaji kitab, al quran dll. Kebetulan siang sesudah sholat dzuhur ada pengajian kitab di mushola. Pengajian nya dicampur dengan anak putra. Hanya dinding yang berteman kaca sebagai pembatasnya. Pertama kali nya juga Tisa mengaji dicampur seperti itu.
Ketika Tisa sedang memperhatikan dan menulis apa yang telah dijelaskan ustadz tiba-tiba terdapat kertas yg digulung-gulung menyerupai bola kecil ada tepat berada di atas buku kitabnya. Tisa pun langsung melihat isi dari tulisan tersebut "Hey berbaju biru, boleh kenalan" . Saat itu memang Tisa sedang memakai baju biru. Tisa melirik kanan dan kiri. "Siapa yg mengirim tulisan ini? " pikirnya dalam hati. "Ah entahlah aku tak peduli".
Tisa fokus kembali dengan apa yg dijelaskan oleh ustadz di depan.  Dan lagi-lagi ada yang melemparinya dengan kertas dari samping kanannya. Samping kanannya adalah santri putra. Tisa penasaran siapa yg melemparinya daritadi dengan kertas bertuliskan kata kata engga jelas itu. Diseberang terlihat seseorang menggunakan baju koko putih dan memakai peci hitam. Ia tersenyum pada Tisa. Tisa tak mempedulikan akan hal itu. Ia tetap fokus dengan kitabnya. Lagi-lagi disebrang melempari nya dengan kertas sehingga Tisa menjadi kesal. Saat itu pengurus pondok (kaka kelas yg menjadi pengurus) menegur nya agar tidak berisik. Bukan hanya menegur tapi melihatnya dengan sinis tanda tak suka dengan nya.

*keesokan harinya di lab komputer.
Tisa penasaran dengan tulisan terkhir yang ia dapat kemaren. Dibukanya akun Facebook nya dan mengetik sesuai email yang tertera di kertas kecil itu. "Subhanallah cakep bener nih orang, putih manis pula hihi" gumamnya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri. "Weh, ngapain lo senyam senyum sendiri" ucap Via sambil menyenggol tangan Tisa.
"Tidak papa" Tisa langsung buru" mengklik tulisan Tambahkan Teman dan melogout akun Facebook nya karna bel tanda masuk kelas telah berbunyi.

*pulang sekolah. Tisa agak telat saat itu. Mau berangkat sekolah dan pulang sekolah pasti melewati asrama putra. Ketika Tisa dan Via sedang asik bercanda-canda sambil berjalan menuju asrama. Ada sesuatu yang membuatnya terdiam dan berhenti bercanda. Dia, ya dia. Seseorang yang kemarin melemparinya kertas.berada tepat di pintu gerbang asrama putra. Dia kembali tersenyum pada Tisa. Tisa tertunduk malu dan enggan melihatnya. Karna dia sadar saat itu sedang bulan ramadhan dan berpuasa.

*1 minggu kemudian
"Tis, buruan udah telat nih. Udah dimulai tuh ngaji nya". Ucap Via
"Kamu duluan aja Vi, aku masih nyari kitabku engga tau ini dimana nyimpennya".
"Yaudah, aku duluan" kata Via sambil melangkahkan kaki nya keluar kamar menuju mushola.
"Akhirnya, nih kitab ketemu juga". Tisa langsung berlari keluar kamar hendak ke mushola. Tisa berlari karna tak ingin ketinggalan pengajiannya itu. Dari arah yang berlawanan tiba-tiba ada seseorang yang berlari juga menuju mushola. "Astagfirulloh al'adzim, untung engga nabrak" kata Tisa yang langsung memberhentikan kaki nya itu. Ternyata seseorang itu adalah Farel. Lelaki yang selalu tersenyum padanya. Ternyata Farel juga terlambat. Tisa mengetahui namanya saat waktu di lab komputer waktu itu.

Hari demi hari telah terlewatkan. Hingga akhirnya liburan tiba. Hari dimana Tisa, Via dan santri putri tunggu. Liburan bersama dirumah, merayakan lebaran idul fitri dirumah. Membuat Tisa sangat senang dan sudah merindu akan suasana rumah.
Tisa dan Via dijemput oleh orangtua nya. Tak banyak baju yang mereka bawa ke rumah. Karna dirumah pun ada.

*(singkat cerita) Lebaran Idul Fitri.
Hp Tisa bunyi, ternyata ada sms masuk. Tidak ada nama melainkan nomer baru. Yang isinya:
" Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin ".

Tisa membalasnya:
" Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf dan Lahir Batin juga. Maaf dengan siapa ini?".

Ternyata yang sms Tisa adalah Farel. Betapa senang nya Tisa karna Farel menghubunginya. Pada akhirnya Tisa dan Farel semakin dekat dan dekat. Tapi, mereka tak ada pemikiran sedikit pun mau diapakan hubungan mereka kedepannya. Biar waktu yang menjawab semuanya.

*kembali ke pondok
"Vi, kamu tau engga. Aku makin deket loh sama dia hihi" kata Tisa.
"Deket sama siapa Tis? Kamu lagi jatuh cinta ya?"
"Sama Farel Vi, sama Farel. Emm engga tau deh klo itu" ucap Tisa sambil senyum-senyum gaje.
"Wah beneran inimah namanya jatuh cinta".
"Soktau kamu Vi, Haha emang kamu tau apa itu cinta? Kamu aja jomblo " ledek Tisa pada Via
"Sial kau Tis, biar jomblo begini tapi tetep kece kan hihi" memuji diri sendiri.
"Vi, kamu udah betah belum disini?" Tanya Tisa.
"Belum rasanya aku engga betah pengen pindah aja" jawab Via.
"Betah-betahin Vi kesian ortu kamu".
Via hanya mengangguk.

Beberapa hari kemudian Tisa menuliskan sesuatu di selembar kertas yang isinya:
" Vi, semoga kamu betah ya dipondok. Aku pindah sekolah Vi, aku akan selalu mendoakanmu yang terbaik. Amin. Jaga dirimu baik-baik Vi. Salam Tisa ".


Via menghabiskan waktunya dipondok tanpa Tisa. Sedangkan Tisa sudah masuk di sekolah barunya. Seiring berjalan nya waktu Tisa sangat merindukan suasana pondok. Entah ada yang hilang rasanya. Ya, bukan saja merindukan teman-teman nya melainkan sosok Farel juga. Bagaimana keadaannya sekarang? Baik-baik atau tidak. Tisa pun langsung membuka akun Facebook nya. Seketika itu juga isi beranda Tisa ramai. Tisa yang membaca pun sontak kaget dan tak percaya. " Engga mungkin,  engga mungkin Farel jadian sama Via. Engga mungkin". Tisa pun menangis sejadi jadinya. Kenapa sepupunya itu mengkhianatinya. Padahal Via tau kalo selama ini Tisa dekat dan memendam rasa kepada Farel. Tisa pun langsung mengirim sms pada Via:
" lo jadian Vi sama Farel? Tega lo Vi. Padahal kan lo tau klo gue deket bahkan gue ada rasa sama dia. Kenapa?  Pager makan tanaman lo!!!! ".
Tisa mengirim sms karna ia tau kalau Via membawa handphone secara diam-diam.
" Maafin gue Tis, gue engga tau harus jawab apa. Tiba-tiba dia nembak gue gitu aja. Gue bingung" balas Via.

"Tapi kan lo tau Vi, gue ada rasa sama dia. Gue benci sama lo Vi gue benci!!!".

"Maafin gue Tis, maafin gue".

Tisa tak membalas smsnya lagi. Kesal, marah, emosi kini yang dirasa. Muak akan semuanya. Tiba-tiba Farel meneleponnya.
"Hallo Tis, lo engga papa kan? ".
"Kaya gini lo bilang engga papa rel?".
"Lo nangis Tis, maafin gue Tis gue engga bermaksud ngebuat lo jadi kaya gini. Gue sayang Tis sama lo. Sayang banget"  jelas Farel.
"Kalo lo sayang sama gue. Kenapa lo jadian sama sepupu gue sendiri? Hah!! Gue benci sama lo rel gue benci!!".
Tisa langsung mematikan handphone nya.

Pada akhirnya Tisa mengikhlaskan semuanya. Sampai akhirnya kita bertiga sama sama lulus dari SMA. Farel sempat menghubunginya untuk mengajak kuliah bareng di satu kampus. Namun keadaan tak sesuai dengan yang diharapkan. Farel masuk ke perguruan tinggi di daerah jakarta barat. Sedangkan Tisa di daerah tangerang. Bahkan hubungan antara Farel dan Via tidak lagi satu alias putus. Farel dengan kesibukannya dan Tisa dengan kesibukannya. Karna sama sama sibuk. Mereka berdua jarang mengasih kabar satu sama lain. Bahkan hampir tidak pernah. Dan kabarnya lagi Farel sudah mempunyai couple baru. Tentunya satu kampus dengan nya. Perasaan Tisa biasa saja karna dia sudah tau bagaimana Farel sebenarnya. Tisa pun memutuskan untuk melupakan nya.

TAMAT

Create: Afika Yulia Sari

Selasa, 02 Desember 2014

Cerpen : Jilbab, Mahkotaku

Namaku Aisyah. Aku telah menduduki bangku SMP. Awalnya, aku bertemu dengan sosok seorang perempuan manis mengenakan pakaian islami dan tertutup rapat yang berbalut jilbab putih dikepalanya. Pada saat itu, kami sama-sama sedang menunggu angkutan umum. Sesekali ia melihat dan tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyumannya. Angkutan umum yang kami tunggu akhirnya datang. Di dalam kami duduk bersebelahan.

"Subhanallah, cantik dan adem sekali melihat wajah nya dengan sedekat ini" dalam hatiku berbicara.

Ku beranikan diri untuk sekedar menanyakan nama nya. "Maaf, bolehkah aku mengenalmu?" Tanyaku.
"Ana Fatimah" jawabnya singkat.
"Nama yang bagus, aku Aisyah senang berkenalan denganmu".
"Senang berkenalan denganmu juga ya ukhti".

Sepanjang perjalanan ia hanya diam dan diam. Tak lama ia menegorku dan berkata "Ukhti, rambutmu bagus tapi lebih bagus lagi jika kau tutupi dengan mahkotamu".
"Aku tak mengerti apa yang kau katakan. Maksudmu?" tanyaku polos.
"Rambutmu bagus, namun lebih bagus lagi jika kau tutupi dengan mahkotamu yaitu jilbab" jelasnya sambil tersenyum melihatku dengan kepolosanku.
Aku pun berfikir "Apakah ia sedang menyindirku? atau seakan-akan hendak menyuruhku untuk memakai jilbab sepertinya? Ah entahlah".

"Afwan ukhti, saya duluan" Katanya seraya pamit kepadaku ketika hendak bersiap-siap turun dari angkot. Seketika itu pula fatimah membangunkan lamunanku. "Ia silahkan, kapan kita bisa bertemu lagi?" tanyaku
"Insyaallah, akan tiba saatnya jika allah menghendaki" jawabnya sambil menuruni angkutan yang di tumpanginya.
Aku melihat ia dari jendela melambaikan tangan dan tersenyum ke arahku. Aku pun membalasnya dan serasa tak ingin lepas dari pandangan itu.

Keesokan harinya disekolah ku dapati pelajaran Akidah Akhlak yang membahas tentang jilbab. Ada rasa keingintahuan yang terbesit dalam diriku mengenai apa itu jilbab dan apa fungsinya. "Bu, apa hukum bagi perempuan muslimah yang memakai jilbab? dan apa fungsi dari jilbab itu sendiri?" tanyaku memberanikan diri.

"Hukum memakai jilbab bagi perempuan itu wajib sebagaimana yang telah dijelaskan didalam Al-Quran dan Hadist. Sedangkan fungsi dari jilbab itu sendiri adalah untuk menutupi aurat" jawab bu eni.

"Tapi bu, bagaimana jika perempuan itu belum sanggup memakai jilbab?" tanyaku lagi penasaran.

"Apabila perempuan itu belum sanggup memakainya, masih diperbolehkan tpi alangkah baik nya sedikit demi sedikit belajar untuk membiasakan diri untuk berjilbab. Apa kamu berniat untuk memakai jilbab Aisyah? " tanya bu Eni padaku.

"Insyaallah, jika hati ini sudah benar-benar matang".

"Alhamdulillah, sebaiknya niatkan dari hati dan yakin dengan sepenuh hati dan tidak berniat untuk melepaskannya lagi".

1 tahun kemudian. Aku telah menduduki bangku SMA.

"Subhanallah nak, kau cantik sekali mengenakan jilbab itu" puji bunda Aisyah yang sedari tadi memperhatikanku bercermin dibalik pintu.
"Terimakasih bunda" kataku sambil memeluk bunda. "Apakah kau sudah benar-benar mantap dan tak ingin melepasnya lagi nak?".
"Sungguh, aku sudah benar-benar yakin dan bertekad untuk memakainya hari ini, esok dan seterusnya".
"Ingatlah nak, jilbab bukan bertujuan untuk mempercantik diri melainkan untuk menutupi aurat dan menjagamu dari hal-hal yang tidak diinginkan" jelas bunda Aisyah.
"Iya bunda, Aisyah mengerti".

2 bulan kemudian.

"Aisyah? Ini beneran kamu?" ucap Fahmi kaget setelah melihat perubahanku saat ini. Fahmi adalah anak dari salah satu teman bundaku. Ia berasal dari keluarga baik-baik dan terpandang. Ayah Fahmi seorang Ustadz. Hari itu kebetulan Fahmi sedang berkunjung dan bersilaturahmi ke rumahku.

"Iya kenapa mi? Ada sesuatu yang aneh denganku?" tanyaku balik.
"Subhanallah, sungguh kau telah banyak berubah Aisyah" kata Fahmi terkagum.
"Alhamdulillah Syukron ya akhi, sebenarnya diriku masih dalam tahap belajar. Maukah kau mengajariku segala tentang agama?" pinta Aisyah.
"Dengan senang hati ya ukhti".
"Syukron Katsiron".
"Sudah lama kita tak berjumpa ya?" ucap Fahmi. "Terakhir kali kita bertemu waktu SD. Apa kau ingat?".
"Tentu saja aku ingat, mana mungkin aku lupa".
Fahmi hanya tersenyum. Aku pun bangun dari Sofa, belum melangkahkan kaki Fahmi menegorku "Kau mau kemana?".
"Aku ingin pergi ke toko buku, ada beberapa buku yang harus ku beli".
"Boleh aku ikut menemanimu? Aku takut kau kenapa-kenapa" ucapnya khawatir.
"Tentu saja" jawabku singkat sambil mengambil tas.


*Di Taman
"Berapa banyak buku yang kau beli?" tanya Fahmi.
"Hanya 5"
Tiba-tiba aku melihat sosok perempuan. Perempuan itu seperti aku kenal. Tapi siapa?  "Iya aku ingat, Fatimah. Perempuan yang tempo dulu bertemu denganku" ucapku dalam hati.
"Kau kenapa Aisyah?" tanya Fahmi yang sedaritadi melihatku diam. Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya fokus tertuju pada perempuan itu. Perempuan yang sudah tak asing lagi dimataku. Tak ada yang berubah darinya, hanya saja ia membawa sebuah tongkat. Astagfirullah..
"Apa ia tak bisa melihat?" pikirku dalam hati.
Aku pun bergerak mendekatinya, disusul pula Fahmi dari belakang.
"Assalamualaikum Fatimah" sapaku pada Fatimah.
"Waalaikumsalam, afwan anda siapa?"
Aku langsung mengajaknya duduk dibangku taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Ana Aisyah. Apa kau mengenaliku? Tempo dulu kita pernah bertemu".
"Na'am ya ukhti, ana ingat. Kaifaha luki?".
"Alhamdulillah ana bikhoir, kau sendiri?".
"Alhamdulillah ana juga baik-baik saja".
"Afwan ya ukhti, aku ingin menanyakan sesuatu. Mengapa kau bisa seperti ini?".
"1 tahun yang lalu aku tertimpa musibah kecelakaan saat mengendarai mobilku. Alhamdulillah Allah masih mengizinkanku hidup dan bertemu denganmu hanya saja aku tak dapat melihat" jelas Fatimah. "Ya ukhti, mana rambutmu? Kau sudah berjilbab?" tanya Fatimah sambil meraba kepalaku.
"Na'am Fatimah. Kau yang telah menyadarkanku betapa pentingnya jilbab sehingga aku berniat dan yakin untuk memakainya karna Allah".
"Alhamdulillah, sayang sekali aku tak dapat melihatmu. Pasti kau cantik sekali Aisyah".
Air mataku pun menetes tak kuat untuk menahannya. Aku langsung memeluk Fatimah seakan membalaskan rindu yang ku tanam selama ini.

*Di rumah sakit
"Apa kau yakin ingin mendonorkan matamu untuknya?" tanya Fahmi padaku.
"Iya mi, aku yakin dengan seyakin-yakinnya. Doakan yang terbaik ya". ucapku meninggalkan Fahmi menuju ruang operasi.

*Kamar rawat pasien
(Membuka matanya perlahan-lahan) "Bismillah, Subhanallah Allahu Akbar. Alhamdulillah aku bisa melihat lagi dok" ucap Fatimah senang.
"Dok, bolehkah aku bertemu dengan pendonorku?" pintanya.
"Tentu saja".

Seorang perempuan dan laki-laki memasuki kamar dimana Fatimah berada. Perempuan itu duduk dikursi roda dengan memakai pakaian tertutup dan berjilbab. Nampaknya Fatimah mengenaliku.
"Aisyah, mengapa kau melakukan hal ini?" Fatimah mendekatiku. Kenapa kau mendonorkan matamu untukku?".
"Aku ingin mengobati kesedihanmu selama 1 tahun ini Fatimah. Dan aku ingin kau melihatku memakai jilbab ini" jelas Aisyah.
"Subhanallah Aisyah, kau sangat cantik memakainya. Aisyah, lalu bagaimana denganmu? Kau tak bisa melihat sepertiku."
"Aku ikhlas mendonorkannya untukmu Fatimah. Untuk itu aku ingin merasakan apa yang kau rasakan dulu."
Fatimah langsung memelukku erat dan menangis sejadi-jadinya. Tak berhenti-hentinya ia mengucapkan terimakasih padaku. "Syukron Aisyah syukron."



TAMAT

Create: Afika Yulia Sari