Jumat, 10 Juli 2015

Bulan Beda Rasa

Hujan bulan Juni, Lebaran bulan Juli. Kalimat itu selalu terngiang-ngiang dipikiranku. Soal bulan yang berbeda rasa.
Bulan Juni, aku tak sempat melihat air turun dari langit pada saat itu. Bahkan mendung pun sama sekali tidak ada. Yang aku tahu hujan turun dipelupuk mata dengan derasnya. Goresan demi goresan luka tersayat dihati ini. Ketika halnya aku mendapati kamu mengabaikanku. Kamu menganggap aku seperti angin lalu.
Rindu, ya aku rindu..
Aku rindu saat kali pertama mendengar suara lembutmu. Aku rindu petuah-petuah yang kamu sampaikan. Aku pun rindu saat kamu menegurku.
Rindu..
Sempat aku meminta pada waktu untuk berjalan mundur, ia berbisik padaku "tidak bisa"
Sama halnya dengan nasi basi yang tak bisa kembali seperti nasi benar.
Ada kalimat seperti ini " Semuanya Akan Indah Pada Waktunya "
Kapan waktu yang indah itu? Akankah aku harus terus menunggu? Sampai kapan?
Justru yang aku ingin adalah membuat setiap waktunya, setiap harinya lebih terasa indah. Jadi kenapa harus menunggu?
Aku yakin nantinya hubungan kita akan membaik.

Bulan Juli, aku seperti melihat pelangi dari atas sana. Bulan ini adalah bulan Ramadhan. Berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencari keberkahan dari Allah itulah tujuannya. Dengan harapan tumpukkan dosa dapat dihapuskannya.
Lebaran bulan Juli, semua terlihat baru. Baju baru, tas baru, sepatu baru, dll. Tapi bukan itu yang dimaksudkan. Melainkan hati yang baru seperti bayi yang baru lahir. Masa lalu adalah cerminan untuk masa depan. Agar tidak kembali dan mengulangi kesalahan yang sama dimasa lampau.
Bersyukur..
Aku masih menjumpai Ramadhan tahun ini. Umurku yang tak lagi muda, semoga saja aku masih dipertemukan dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya. Amin

Selasa, 23 Juni 2015

Flash Fiction : Mata Hati





Matanya menggembung ulah airmata yang ia tahan. Balutan gaun kebaya putih nampak elok dibalik cermin dihadapannya.

" Apakah aku sanggup dengan pilihan ini? " batin Melvin terus bertanya

Diambang pintu pengantin pria tampak gelisah. Namanya Rey. Diliriknya jam, tengah menunjukkan pukul 09.45 itu artinya 15 menit lagi ijab kabul akan segera dimulai.

" Kemana dia, lama sekali "

***

" Apa kau mencintaiku Melvin ? " tanya Rey

" Iya, tentu saja "
Jawaban terpaksa yang harus dilontarkan Melvin. Sejujurnya ada satu nama yang sudah lama menjadi tambatan hati Melvin. Bukan Rey melainkan Liem.

" Bohong!! Aku tidak melihat ada cinta dimatamu " gertak Rey

Melvin diam. Ia tidak tau harus bagaimana. Yang ia tau saat ini adalah ia akan menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

" Mel, lihatlah siapa yang ku bawa "

Pria bertubuh tinggi itu sudah berdiri disamping Rey. Sosoknya sudah tidak asing lagi bagi Melvin.

" Liem " seru Melvin

" Dialah yang pantas bersanding denganmu " ucap Rey seraya pergi meninggalkan Liem dan Melvin berdua.


#FFMataHati

Sabtu, 06 Juni 2015

Asing





Siang itu, kita seperti orang asing. Tidak saling sapa bahkan menoleh pun enggan.  Sikap dinginmu membuatku resah. Ada apa dengan kita? Sebelumnya kita sedekat nadi.

" Tesa " sapa Rian senyum

Aku menoleh seraya tersenyum balik padanya. Wajahnya cerah seperti cahaya syurga. Pandangannya penuh dengan arti. Namun, waktu menjungkir balikan semuanya tanpa permisi. Semuanya hilang.

Kau berubah 99% dari biasanya. Kamu dengan kesibukkanmu dan aku dengan kesibukkanku. Aku tau disela-sela kesibukkanmu, ada orang lain yang mengisi hari-harimu.

Inikah akhir dari kepingan puzzle itu? Berakhir dengan tanpa alasan.

Tuhan, aku ingin tetap melihatnya.



#FFKasihTakSampai


Kamis, 21 Mei 2015

Misteri yang Terkuak

Sesuai dengan rencana sebelumnya Aku, Dito, Keny, dan Rio menuju ke TKP. Kami berempat berniat ingin memecahkan misteri dibalik Villa teratai. Villa megah yang memiliki tiga lantai. Sempat diantara kami terjadi cekcok dan tidak setuju. Keny, ya ia adalah tipikal orang yang penakut. Namun, setelah Dito membujuk dirinya, akhirnya ia mau juga. Kami sangat penasaran dengan Villa Teratai tersebut. Bagaimana mungkin Villa megah ini bisa tidak berpenghuni seperti ini. Banyak orang sekitar berpendapat ketika disiang hari mereka mendengar suara tangisan anak kecil. Sedangkan dimalam harinya mereka melihat langsung sosok anak kecil tersebut yang berbalut pakaian putih. Untuk itu malam inilah, malam yang tepat untuk menguak misteri yang beredar belakangan ini.
" Gelap sekali tempat ini, berdebu pula " kata Rio sambil mengeluarkan beberapa senter dalam ranselnya
" Chintya, kita pulang aja yuk " ajak Keny takut
" Kau ini, sepertinya rasa takutmu sudah overdosis. Kita sudah berada disini tak mungkin kita mundur " ucapku pada Keny si penakut
Malam semakin larut. Udara dingin mulai menusuk badan kami. Sampai saat ini juga kami belum menemukan adanya tanda-tanda sosok misterius itu.
" Sudah sejauh ini nampaknya tidak ada tanda-tanda yang seperti orang-orang katakan " ucap Dito
" Apa mereka berbohong? Rasanya tidak mungkin. Lagipula untuk apa mereka berbohong dengan hal-hal mistis seperti ini " ucapku greget
" Lihatlah, apa yang ku temukan " suara Rio mengalihkan pandangan kami dari seluruh ruangan. Kami pun menghampiri Rio. Lukisan yang dilumuri bercak darah merah.
" Menyeramkan sekali lukisan itu " kata Keny yang tak lepas dari pegangan Dito
" Apa mungkin, sosok anak kecil yang berada dilukisan itu adalah sosok yang tengah dibicarakan oleh masyarakat? " kataku mengada-ada
Rasa penasaran kami semakin menjadi-jadi dengan ditemukannya lukisan itu. Seketika bau busuk menyelimuti seluruh ruangan lantai dasar. Bau busuk tersebut telah menusuk indera penciuman kami.
" Dit, aku sudah tidak kuat lagi, sebaiknya kita pulang saja " rengek Keny
" Bersabarlah, aku yakin sebentar lagi kejadian ini akan berakhir " ucap Dito yang berusaha menenangkan Keny
" sepertinya dilantai dasar ini tidak ada apa-apa. Bagaimana kalo kita cek keatas ? " ajak Rio.
Rio adalah sosok yang pemberani diantara kami berempat. Belum sempat melangkah, tiba-tiba saja bayangan hitam lewat dibelakang kami dengan cepat kilat.
" Apa itu ? Seperti bayangan " kata Rio santai
Kami melanjutkan langkah kami lagi. Sesegera mungkin kami ingin menguak misteri ini dan segera pergi dari tempat ini. Lama-lama tempat ini membuat kami terasa tak nyaman. Bau busuk yang semakin menyengat, berdebu, pengap, dan menyeramkan.
" Aaaaaa " teriakan Keny membuat langkah kita terhenti lagi
" Tolong bantu aku, aku tak dapat menggerakkan kakiku " ucap Keny lagi. Kaki Keny seperti ada yang memeganginya erat. Setidaknya tarikan kita bertiga lebih kuat darinya.
Rupanya ada sosok yang tengah menyambut kami dari atas sana. Sosok berambut panjang dan berpakaian putih yang tidak lain adalah sosok anak kecil.
Sepertinya ia ingin memperlihatkan kita sesuatu. Ia berjalan ke salah satu ruangan dilantai atas. Ruangan tersebut berbeda sekali dengan ruangan-ruangan yang lainnya. Sangat sempit dan pengap. Ia mengajak kami masuk kedalam dan menunjukkan sebuah peti. Entah apa yang ada didalamnya. Kami membukanya perlahan. Kami tak menyangka dengan apa yang kami lihat. Mayat seorang gadis kecil tergeletak didalam peti itu. Biadab sekali yang tega melakukan hal ini semua. Kami mengerti sekarang, anak kecil itu ingin jasadnya dikuburkan di tempat yang layak. Kami pun berusaha menelpon aparat kepolisian untuk menindaklanjuti kasus ini.

#Nulishoror

Senin, 06 April 2015

WAKTU

Waktu...
Dapatkah kau mengulangi waktumu untukku?
Waktu dimana kau pertamakalinya pertemukan aku dengan dia..
Waktu dimana canda tawa itu masih ada..
Waktu dimana saling berbagi cerita itu ada..
Waktu dimana aku dapat tersenyum..
Waktu dimana aku dapat tertawa lepas dengan tingkah konyolnya..
Bisakah itu ?
Bisakah kau mengulangi itu ?

Waktu..
Terkadang aku membencimu..
Kau terus berlari seakan tak kenal lelah..
Tak bisakah kau berjalan pelan ?
Atau bisakah kau berjalan mundur ?
Karna kau yang telah mengubah diriku dan dirinya..
Aku membencimu waktu...


BY : Afika Yulia

Jumat, 03 April 2015

Cerpen : Villa Hitam

Libur telah tiba..Libur telah tiba.. Horee Horee...
Begitulah lirik lagu pada salah satu lagu anak-anak. Sebagai seorang mahasiswa waktu liburan inilah yang paling ditunggu-tunggunya. Butuh penyegaran otak alias refreshing akibat dikejar-kejar tugas (ngedeadline), Uts dan UAS.
Kita berempat berencana ingin liburan ke puncak. Kita rasa disanalah tempat yang cocok menyegarkan otak dengan udara dan panoramanya yang indah. Oh iya, kita berempat terdiri dari 2 cowo dan 2 cewe. Juan, leo, Vio, dan Oca itulah nama kita.
Juan orangnya asik, pemberani, dan hobi traveling. Beda dengan Leo yang cuek dan hobi fotografi. Vio si gadis penakut dan Oca si tomboy. Kita bersahabat sejak dibangku smp.

" Ca, udah dimasukkin semua barang-barangnya ? " tanya Leo
" Udah, tinggal si Vio doang yang belom "
"Ocaaaaa... bantuin dong berat nih " Vio teriak dari dalam rumah
" Kalian tunggu sini aja biar aku yang kedalem " ucap Juan
Tak lama kemudian Juan dan Vio keluar dengan membawa dua koper dan tas ransel milik Vio.
" Astagaa Vi banyak banget. Kau mau sekalian migrasi " kata Oca
" Duh.. udah deh jangan pada bawel. Masukkin cepetan nanti kita kesiangan belum lagi macetnya" ucap Vio sambil berkaca dan merapikan poninya

*sampai di villa
" Akhirnya nyampe juga " kata Vio yang langsung masuk kedalam villa
" Kau yakin Jun ini tempatnya ? " tanya Oca
" Ya kata bokap sih disini tempatnya "
Villa teratai begitulah namanya. Villa yang bercat putih ini dikelilingi oleh view yang indah. Gunung-gunung yang menjulang dapat terlihat jelas dari villa itu. Sawah-sawah, bukit dan lainnya juga ada. Leo yang hobi fotografi tak akan melewati kesempatan ini. Tiba-tiba kami mendengar teriakan Vio didalam. " Aaaaaaaaa.... " kita bergegas kedalam.
" Kau kenapa Vi ? " tanya Juna
" Tadi aku liat kakek-kakek serem banget. Udah gitu dia melihatku " jelas Vio
" Mungkin dia penjaga villa ini " ucap Leo
Kakek itupun datang dari arah dapur dengan membawa suguhan air.
" Misi anak muda. Silahkan ini diminum tehnya " ucap si kakek
" Maaf kek, kakek ini siapa ya ? " tanya Juan pada kakek
" Saya Kakek Umar penjaga di villa ini "
" Ku bilang juga apa. Dasar penakut " sindir Leo pada Vio
" Kalo gitu saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa kalian bisa panggil saya disebelah villa ini " ucap kakek sembari pergi

* Tengah Malam
" Ca, aku laper lagi nih " rengek Vio sambil menggoyang-goyangkan tubuh Oca yang sedang tidur
" Apaan sih Vi, berisik aku lagi tidur. Ganggu aja !! " ucap Oca yang masih memejamkan mata
Tanpa pikir panjang lagi Vio langsung menuju dapur dan berharap ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sebenarnya ia merasa takut tapi apa boleh buat.
" Astaga, kenapa tak ada apa-apa. Pelit sekali Leo belanja pas-pasan untuk sekali makan tadi " gerutu Vio sambil mengobrak abrik lemari dan isi kulkas. Beruntungnya ia menemukan satu butir telur ayam mentah. Setidaknya masih bisalah untuk mengganjal.
Seketika angin berhembus dengan kencang, diikuti jendela dapur yang terbuka lebar, tembok villa yang bercat putih menjadi hitam seluruhnya, tak lama lampu berkedip-kedip. Vio yang sedang masak pun berhenti. Ia merasa sangat ketakutan. " Ada apa ini ? " ucapnya takut
Muncul bayangan hitam menghampiri dirinya. Vio melangkahkan kakinya mundur kebelakang. Bayangan itu semakin dekat dan dekat. Vio pun pingsan.

*Keesokan harinya
" Gimana ? Dia udah sadar ? " tanya Oca sehabis ambil air minum
" Kau liat saja sendiri. Daritadi engga bangun-bangun " kata Leo
Vio pun sadar dari pingsan nya.
" Aku dimana ? Sakit sekali " kata Vio sambil memegangi kepalanya
" Nih diminum dulu Vi " Oca menyodorkan air minum untuknya
" Sebenernya kau kenapa Vi ? " tanya Juan
" Yang aku ingat aku lagi masak didapur tiba-tiba ada angin kenceng banget dan ada bayangan hitam yang mendekatiku. Setelah itu aku tak dapat mengingat apa-apa lagi " jelas Vio
" Mengigo saja kau Vi " ejek Leo
" Engga mungkin aku ngigo. Temboknya ? Kenapa putih ? "
" Aduh Vi dari awal kita dateng kan emang putih " greget Leo
" Iya aku tau, tapi pas kejadian itu berubah jadi hitam "
" Mungkin kau kecapean Vi, jadi mikir yg engga-engga gitu. Istirahat lagi gidah " kata Oca

2 hari kemudian
" Ada yang ngeliat Vio " tanya Oca pada Juan dan Leo yang sedang asyik bermain badminton
" Daritadi pagi kita main, engga liat dia keluar " jawab Juan
Oca kembali masuk kedalam. Seketika ia merasakan hawa yang panas. Sekujur tubuhnya merinding. Langit berubah gelap disertai petir dan angin kencang. Tembok villa menghitam. Suasana semakin mengerikan dan seram. Juan dan Leo pun menyudahi permainannya dan kembali kedalam.
" Ada apa ini ? " ucap Leo
" Lihat lah disana " ucap Juan sambil menunjuk kearah pojok ruangan.
Mereka melihat sosok berjubah hitam melayang-layang. Bukan hanya itu, Vio pun bersamanya dengan keadaan pingsan
" Kau siapa ? Lepaskan teman kami. Kau mau apa ? " tanya Oca pada sosok berjubah hitam itu.
" Kembalikan teman kami "pinta Oca
Sosok berjubah hitam itu tetap diam.
" Mengapa kau diam saja ? Kau tuli ? Ku bilang kembalikan teman kami !! " kali ini Oca benar-benar marah. Jubah hitam itu lalu menurunkan Vio sembari menghilang tanpa sepatah kata pun.
" Vi, bangun vi.. "
" Sampai kapanpun kalian tak akan bisa menyadarkannya " ucap kakek Umar yang tiba-tiba sudah berada disamping kami.
" Lalu bagaimana ? Apa kakek tau ? Bisakah kakek memberitahu kami ? " kata Juan
" Jika kalian ingin teman kalian tersadar, kalian harus mencari mawar hitam sebanyak-banyaknya. Lalu tanam disekitar villa ini. Maka jubah hitam itu akan kembali lenyap dan teman kalian akan tersadar. Apabila kalian tak berhasil menemukannya teman kalian akan mati sia-sia " jelas kakek Umar
" Mawar hitam ? Dimana kita bisa mendapatkannya ? Pasti sulit sekali ? " kata Leo
" Kalian bisa menemukannya dihutan pada saat bulan purnama " ucap kakek
" Bulan purnama? Apa tak bisa malam ini juga  kek? Aku tak ingin Vio mati konyol disini. Kita juga harus kembali ke jakarta secepatnya " Oca semakin panik melihat semua kondisi yang seperti ini.
" Kalian tenang, kalian beruntung karna malam ini adalah malam bulan purnama. Kalian bisa pergi mencarinya sekarang agar tidak terlalu malam. Biar teman kalian saya yang menjaganya.  "
" Tunggu apa lagi kalo gitu kita pergi sekarang " sergah Juan
" Berhati-hatilah kalian, karna akan banyak rintangan yang akan kalian hadapi " kakek Umar mengingatkan mereka
" Terimakasih kek, kami akan berhati-hati " kata Oca

*
Leo melirik arlojinya, jam sudah menunjukkan pukul 22.30 wib. Sudah sejauh ini mereka belum juga menemukan mawar hitam itu. Nampaknya mereka bertiga sudah sangat kelelahan. Kaki yang menuntun langkahnya sudah tak kuat. Keringat yang keluar dari tubuh mereka mulai bercucuran. Nafas mereka ngos-ngosan. Tenggorokan kering. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan bekal yang mereka bawa ala kadarnya.
" Sudah sejauh ini nampaknya tidak ada tanda-tanda mawar hitam itu ada " ucap Juan sambil menarik botol minuman yang sedang diminum Leo
" Hey kau tak sopan sekali "
" Apa kakek Umar membohongi kita ? Tapi rasanya tak mungkin. Untuk apa ia berbohong " kata Oca
" Aku mulai putus asa, kita sudahi saja pencarian ini. Percuma kita tak menemukan apa-apa " Keputus asaan Leo membuatnya seperti orang yang lemah
" Apa yang kau bicarakan !! Apa kau tidak ingat tujuan kita mencari mawar hitam itu untuk siapa hah !!! Vio sedang sekarat !!! " Juan terpancing emosi dengan perkataan Leo barusan
" Sudahlah kalian jangan bertengkar terus, aku pusing melihatnya " gertak Oca
Semua kembali tenang. Hanya terdengar suara gemercik api unggun yang dibuat Juan. Kelelawar sudah mulai banyak yang berkeliaran dihutan. Membuat suasana semakin menakutkan. Belum lagi udara dingin yang menjadi-jadi. Api unggun yang dibuat tak berarti apa-apa. Dingin sekali.
Langit semakin gelap. Bulan mulai menampakkan purnamanya. Tak jauh dari tempat kita istirahat, terlihat cahaya yang begitu terang.
" Lihatlah, apa itu disana " suara Oca membangunkan lamunan kedua temannya itu. Ia langsung menuju cahaya itu berada. Disusul dengan Juan dan Leo dibelakang.
" Mawar Hitam " ucap Oca lirih
Ia pun segera mengambilnya, tapi apa yang terjadi tangannya seperti kesetrum dan memerah.
" Kau tak kenapa-kenapa Ca? " tanya Leo
" Aku engga papa, hanya saja aku tak dapat mengambilnya "
" Tanganmu terluka. Sini aku obati "
"  Aku tak peduli dengan tangan ini Le, yang kita harus pikirkan bagaimana caranya untuk mengambil mawar itu. Kita harus cepat sebelum bulan purnama habis "
" Le, tolong ambilkan tang diransel " pinta Juan
" Untuk apa kau membawa tang sebanyak ini "
" Banyak tanya kau Le, kalian berdua bantu aku sekarang memotong tangkainya dengan tang itu "
Akhirnya mereka dapat mengambil mawar hitam itu sebanyak-banyaknya. Mereka berharap semuanya belum terlambat ketika mereka kembali ke villa.

" Kek, kami sudah menemukan mawar hitam ini " ucap Juan yang ngos-ngosan akibat berlari dari hutan
" Secepatnya sekarang kalian tanam. Waktu kalian tidak banyak lagi " perintah kakek Umar
Juan dan Leo segera keluar dan dengan cepat mereka menanamnya.
" Bagaimana keadaan Vio kek, apa ia baik-baik saja ? " tanya Oca sambil menangis
" Tubuhnya semakin melemah, kita berdoa saja agar semuanya baik-baik saja. Emmm sebaiknya kau bantu temanmu diluar sana "
" Baik kek, demi Vio sahabatku apapun akan ku lakukan "

*
Mawar hitam sudah tertanam disekeliling villa itu. Sesaat kemudian kepulan kabut menyelimuti seluruh bagian dari villa itu. Bulan purnama telah habis. Namun apa yang terjadi? Suara teriakan Vio dari dalam villa yang sangat kencang. Angin kencang berhembus seperti layaknya tornado. Kabut itu perlahan menghilang. Terlihat jubah hitam di depan kami. Ia tertawa senang. Apa usaha kami tak berhasil? Mengapa jubah hitam itu tidak lenyap?
" Kalian pikir kalian bisa melenyapkanku begitu saja " ucap jubah hitam itu dengan sombongnya
" Sia-sia sudah semuanya. Apa yang harus kita lakukan sekarang " ucap Leo panik
Oca mendekati jubah hitam itu.
" Ca, jangan kesana. Kau sudah gila !! "
Oca tak mempedulikan perkataan sahabatnya itu. Yang ia fikirkan hanya keselamatan Vio. Itu saja.
" Emmm, berani sekali kau mendekatiku. Apa kau juga ingin menyusul seperti temanmu yang di dalam "
" Jubah hitam, aku mohon kembalikan keadaan Vio sahabatku seperti semula. Aku mohon "
" Kau fikir aku mau mengabulkan permintaanmu hahahaaha "
" Jubah hitam, dengarkan aku. Aku mohon kembalikan sahabatku seperti semula. Kalau memang harus ada yang menjadi korbannya. Aku rela, aku rela menggantikan posisi dia. Aku rela ... " ucap Oca sambil memejamkan matanya
Tiba-tiba tubuh jubah hitam mengeluarkan kepulan asap.
" Stooooopppp " teriak jubah hitam
" Aku takkan berhenti, sebelum kau mengembalikan sahabatku, aku menyayanginya. Aku mohon, kasian dia begitu menderita. Aku takut kehilangan dia. Aku mohoooooonnn "
" Aaaaaaaa tiddaaaaaakkkk " teriak jubah hitam yang tubuhnya sudah terbakar. Ia pun lenyap menjadi abu.
" Apa yang terjadi ? " tanya Oca yang keheranan setelah membuka matanya
" Jubah hitam telah lenyap. Kau hebat Ca " puji Leo
" Apa maksudmu? Aku tak melakukan apa-apa "
" Ketulusanmulah yang membuat jubah hitam itu lenyap anak muda " ucap kakek Umar yang keluar bersama Vio
" Viooo "
Kita berempat berpelukan.
" Ca, makasih ya kalau bukan karna kamu aku tak bisa sembuh lagi "
" Kau ngomong apa sih Vi, kau ini sahabatku aku tak ingin kehilanganmu " memeluk Vio lagi
" Emm kek kalau boleh saya tau sebenarnya jubah hitam itu siapa ya ? " tanya Juan penasaran
" Maaf anak muda, saya tidak bisa menceritakannya "
" Baiklah kek tak masalah. Terimakasih kakek sudah membantu kami selama disini. Esok kita akan kembali ke jakarta "

TAMAT


By : Afika Yulia Sari

Sabtu, 28 Februari 2015

Cerpen : Sahabatku, Cintaku

Sahabat bukan mereka yang menghampirimu ketika butuh, Namun mereka yang tetap bersamamu ketika seluruh dunia menjauh.

Lembaran-lembaran kertas usang masih tersimpan rapi yang didalam nya penuh kenangan. Ku buka lembar perlembarnya. Betapa ku merindukan masa-masa seperti ini. Foto masa kecilku bersamanya. Sahabatku, ya sahabat masa kecilku. Aku sangat merindukanmu. Cepatlah terbang ke Indonesia. Entah harus berapa lama lagi aku menunggumu. Aku telah bosan dengan penantian ini.
Handphoneku berdering tanda sms masuk. " Lusa aku kembali ke jakarta. Aku sudah tak sabar ingin bertemu denganmu. Aku sangat sangat merindukanmu " 

Aku sangat gembira mendengar kabar ini. Bertahun-tahun aku tak berjumpa dengannya, akhirnya tiba juga saatnya. Seperti apa dia sekarang ?. Aku harus menemui mila sekarang. Mila adalah sahabat karibku. Selama ini ia yang selalu menemaniku. 

*

" Mil, gue seneng banget.. " kataku 

" Seneng kenapa ? " ucap Mila yang sedaritadi mencari-cari sesuatu dilacinya.

" Sini dulu dong Mil, dengerin gue "

" Yaudah lu ngomong aja. Gue juga denger kok "

" Sahabat kecil gue yang di paris, besok lusa mau datang ke Indonesia " 

" Ini dia yang gue cari-cari " Mila telah menemukan sesuatu yang dicarinya daritadi " Sorry Key lu ngomong apa tadi ? "

" Ya ampun Mila, daritadi gue ngomong engga denger ? Besok lusa sahabat kecil gue mau dateng ke Indonesia yang di Paris " 

" Are you sure ? " 

" Yeah, makanya gue seneng banget "

" Kenapa bisa samaan ya, pacar gue juga mau balik ke Indonesia besok lusa "

" Akhirnyaaa... kenalin lah ke gue " 

" Boleh tapi lu juga kenalin tuh sahabat kecil lu itu "

" Itu sih gampang.. "

*

" Key, turun sayang liat siapa yang datang " mama menyeruku dari bawah

" Siapa sih yang berkunjung pagi-pagi buta seperti ini " ucapku dalam hati. " Iya mama sebentar " sahutku. Aku langsung memasukkan kucingku kedalam kandang dan bergegas turun kebawah. Aku tak melihat siapa-siapa. " Bi, bibi.. " aku memanggil bi Imah. 

" Iya non, ada yang bisa bibi bantu ? "

" Mama mana ya bi, barusan dia manggil aku "

" Mama non langsung pergi bukannya mau pergi ke paris ? "

" Astaga bi, oh iya aku lupa "

" Kalo begitu bibi permisi dulu non " 

" Oh iya bi tadi ada tamu yang dateng ? Mana orangnya bi ? "

" Iya non. Itu ada didapur "

" Yaudah makasih ya bi "

Ini orang bertamu seenak jidatnya aja. Engga ada sopan-sopan nya. Berisik sekali di dapur. Apa jangan-jangan dia mau maling ?.

" Heh lo siapa ? " kataku sambil memegangi gagang sapu

" Keyla, itu kamu ? Ini aku Tomi sahabatmu " ucapnya

Sapu yang kupegang terjatuh. Aku tak percaya didepanku benar-benar dia. " Kau diam saja, apa kau tak ingin memeluk sahabatmu ini ? " ucapnya lagi. Aku memeluknya. Betapa aku merindukannya. 

" Lo jahat tom, kenapa baru sekarang kau menemuiku " aku melepas pelukanku

" Gue sibuk banget, maaf ya. Yang penting kan sekarang gue udah pindah ke indonesia. Gue janji gue akan selalu ngelindungin lo " 

Tomi memelukku. Kali ini semakin erat. Tiba-tiba saja aku menyium bau yang sangat menyengat.
" Bau apa ini, Lo belom mandi ya Tom ? " ucapku menghindar  dari Tomi

" Enak saja gue wangi begini "

" Astaga, itu gosong. Matiin kompornya matiin "

Tomi langsung mematikan kompornya. Kita berdua tertawa geli. " Ayam gue gosong kan tuh " 
" Mirip kaya lu Tom haha " 

" Haha sial kau "

" Oh iya Tom nanti siang kita makan siang bareng yuk diluar ? "

" Siang ini ya, emm maaf key gue udah ada janji " 

" Oh gitu yasudah tak apa "

*Siang harinya

" Mil, lo udah lama. Sorry tadi mobil gue mogok " kata Keyla dengan nafas ngos ngosan.

" Iya woles, eh lo sendirian ? Mana sahabat lo katanya mau ngenalin ke gue ? "

" Iya dia engga bisa dateng. Dia udah ada janji sama orang lain. Mil, pacar lo mana ? "

" Dia lagi ke toilet, eh itu dia key "

Aku menoleh ke arahnya. Aku terkejut, dia begitu familiar dimataku. Entah mengapa dadaku terasa sakit ketika ku tau bahwa kedua sahabatku ini berpacaran. 
" Key, lo disini ? " tanya Tomi

" Emm iya, lo disini juga ? " aku menanya balik

" Jadi kalian berdua sudah saling kenal ? " sambung Mila 

" Iya Mil, Tomi adalah sahabat kecil gue yang selalu gue ceritain ke lo "

" Kalian sahabatan ? " tanya Tomi lagi 

" Dunia sempit banget ya ? Bisa kebetulan kaya gini " kata Mila

" Oh iya, mamanya Keyla meminta aku tinggal dirumahnya. Karna saat ini beliau sedang ke luar negeri. Apa kamu izinin aku Mil ? " 

" Tom, aku pasti ngijinin kamu kok. Dan aku engga perlu khawatir "

" Makasih banyak ya sayang "

Aku merasa ada sesuatu yang hilang. Jujur hati ini mengatakan tak rela. Namun aku bisa apa ? Cemburu pun aku tak berhak.

Hari demi hari telah terlewatkan. Baik dirumah maupun disekolah jarang sekali Tomi meluangkan waktunya sedikit untukku bahkan tak pernah. Kini dia berubah. Ia bukan Tomi yang aku kenal sebelumnya. Perhatian dan kasih sayang Tomi udah terbagi ke yang lain. Percuma saja dia berada disini, hubungan kita semakin jauh. Bukan pertemuan seperti ini yang aku harapkan.
" Aku butuh kamu Tom " batinku

Ingin sekali rasanya teriak sekencang kencangnya. Tapi rasanya tak mungkin aku bisa dikeluarin dari kelas nanti. Bel istirahat pun berbunyi aku berniat untuk mengajak Tomi istirahat bareng. Niatku hanya ingin mempererat lagi persahabatan ini.
" Tom, kantin bareng yuk " ajakku

" Emm gue sama Mila mau ke perpus "

" Oh yaudah kalo gitu "

" Mau ikut key ? " ajak Mila

" Engga deh, gue kekantin aja "

" Yaudah kalo gitu " kata Mila lagi

Rasanya melihat mereka berduaan terus, hati ini makin teriris -iris saja. Sakit sekali. Kali ini  aku tak kuasa menahan semuanya. Aku berlari keluar kelas dan mencari tempat sepi. Aku mulai menitikkan air mataku.

" Hapus air mata kamu, nih " ucap Beno yang tiba-tiba datang dan mengulurkan saputangan. " Aku paling tidak suka melihat cewe menangis "

Beno adalah teman baikku. Akhir-akhir ini dialah yang selalu ada disampingku. Memberi perhatian lebih kepadaku, entah apa maksud dari semua itu. 
" Ben, iya makasih " kataku sambil mengambil saputangan itu

" Kau kenapa ? Soal Tomi lagi ? " tanyanya

Aku hanya mengangguk. Aku semakin menjadi-jadi. Beno memelukku dan menenangkan tangisanku. Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing sekali. Pandanganku tak jelas, buram. Hidungku mengeluarkan darah. Aku pingsan dipelukkan Beno.

*Rumah sakit

Kepalaku sakit sekali. Dimana aku ?  Sepertinya bukan dirumah. Tanganku diinfus dan aku memakai selang pernafasan. Aku melihat Beno tertidur pulas. Kenapa aku bisa berada dirumah sakit ? Apa yang terjadi padaku ?. Beno terbangun dari tidurnya, mungkin karna mendengar rintihanku.

" Key, kau sudah sadar ? Sebentar aku panggilkan dokter "

Dokter memasuki ruang rawatku. 
" Bagaimana dok keadaan Keyla ? " tanya Beno

" Waktu Keyla sudah tak lama lagi "

" Maksud dokter ? "

" Keyla mengidap leukimia "

" Dok, tolong lakukan sesuatu dok " paksa Beno

" Maaf, saat ini yang hanya bisa kita lakukan adalah berdoa. Serahkan semuanya kepada Allah. Berharap semoga keyla mendapat mukjizat " 
Dokter meninggalkan ruangan. 

" Key, kenapa kau menutupi penyakitmu ini "

Aku hanya diam. Yang pastinya aku tak ingin menjadi beban orang-orang disekitarku.
" Ben, makasih ya lo selau ada buat gue, selalu ngasih perhatian ke gue. Maaf gue belom bisa bales kebaikan lo ini " ucapku terbata-bata

" Kamu ngomong apa sih. Yang terpenting sekarang aku pengen kamu sembuh "

" Ben, aku nitip ini buat Tomi " kataku sambil menyerahkan sebuah amplop yang berisikan surat.

Dadaku terasa sakit. Nafasku tak beraturan. Sekujur tubuhku mulai dingin. 
" Key, kau baik-baik saja kan ? "

" Asyhadu allaa ilaahaillallah Wa asyhadu anna muhammadarrosulullah " 
Aku telah pergi meninggalkan dunia. Dunia yang mengajarkan aku arti akan hidup. Dunia yang memperkenalkanku dengan seorang sahabat. Dan dunia pula yang mengajarkanku arti rela dan ikhlas. 

*Tiga hari kemudian

" Mil, kamu liat Keyla ? Kamu tau dia ada dimana ? "

" Loh kan kamu yang tinggal dirumahnya "

" Itu dia,  udah beberapa hari ini Keyla tidak pulang "

" Tom, ini ada titipan buat lo " Tanpa basa basi Beno menghampiri Tomi dan menyerahkan amplop itu. Ia pun pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

" Apa ini ? " ucap Tomi sembari membuka amplop itu. Isinya adalah surat yang ditulis Keyla untukknya.

Dear Sahabatku..

Setelah kau membaca surat dariku ini mungkin aku sudah tak ada. Maaf aku pergi tak pamit denganmu. Aku juga mau minta maaf karena selama ini aku menyimpan rasa sama kamu. Dari kecil sampai sekarang rasa itu masih sama. Perhatian kamu, kasih sayang kamu, peduli kamu, semuanya telah membuat aku cinta. Aku cinta kepada sahabatku sendiri. Namun, begitu aku tau kalau kamu sudah bersama dengan yang lain. Aku merasa ada sesuatu yang hilang. Perhatian kamu, kasih sayang kamu ke aku sudah terbagi. Kau tau Tom ? Ketika kau menolak semua ajakkanku. Rasanya menyakitkan sekali. Padahal niatku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kita. Tapi apa daya aku hanya bisa diam. Disaat itu pula aku memilih memutuskan melupakan kamu dan menghapus semua rasa itu. Aku yakin hidup kamu bakal jauh lebih tenang. Terimakasih telah menjagaku. Terimakasih telah menjadi sahabatku. Terimakasih atas semuanya. 
Tom, bisahkah kau mengabulkan permintaan terakhirku ini ? Aku ingin kau meletakkan mawar putih diatas tempat peristirahatan terakhirku. Itu saja.. 
Terimakasih..

Salam sayang sahabatmu

Keyla

Tomi menyesal atas apa yang ia lakukan kepada Keyla. Seandainya waktu dapat diputar. 

" Maafin aku Key, Aku janji sama kamu setiap hari aku akan ke makam kamu dan membawa mawar putih untukmu " 




Jangan sia-siakan sahabatmu atau orang-orang yang sayang kepadamu. Suatu saat kau akan menyesalinya ketika mereka tak lagi ada.


By : Afika Yulia